Pendopo

Sebagai suatu ketetatapan yang berlaku sepanjang zaman, setelah malam pasti siang.
secara alam, maupun peradaban manusia, semua berlaku demikian, karena itu merupakan ketetetapan-Nya.

Nusantara sekarang sedang mengalami masa malam se-malam-malamnya, gelap se-gelap-gelap-nya.
Banyak orang menjadi buta, tidak lagi punya kemampuan membedakan mana benar mana bathil,
tak lagi mengenali mana Tuan mana berhala,
susah menemukan pejabat tanpa korupsi, susah menemukan pejabat yang benar-benar mengayomi, padahalnya rakyatnya menjerit karena hidupnya begitu terjepit. Tak ada wakil yang benar-benar mewakili mereka.

Saat inilah, saat datangnya kabar gembira, berita besar untuk nusantara.
setelah malam pasti akan berganti siang.
bergembiralah... berbahagialah....
setelah semua perbuatan hina dan zina itu nyata, maka itulah malam,
itulah pertanda hari akan segera berganti.
Sang Gusti bekerja, Sang Gusti bekerja menperjalankan waktu.
Jika detik ini adalah 00.00 maka detik waktu akan terus berjalan,
dari sini kita bisa memperkirakan saah
Sudah dekat apa masih jauh, menuju hari terang?
Saah itu bisa diperkirakan dari tanda-tanda alam dan peradaban.

Contoh Pidato Sukarno : Kongres Baperki VIII


Pidato Bung Karno pada Kongres Baperki VIII

“BAPERKI supaya menjadi sumbangan besar terhadap revolusi Indonesia”


Saudara-Saudara dan Anak-Anakku sekalian,

Lebih dahulu saya menyatakan terima-kasih saya serta rasa haru hati saya berhubung dengan dibuatnya dan dinyanyikanaya lagu “Hidup lah Bung Karno” yang beberapa detik yang lalu kita bersama telah mendengar. Terima kasih. Di samping mengucapkan terima kasih itu saya menyatakan kekaguman saya atas kemahiran komponis lagu itu, yang dari Saudara Siauw Giok Tjhan saya mendengar bahwa kom­ponisnya ialah seorang puteri, komponiste, yaitu Saudari Evie Tjoa. Terima kasih.
    Saudara-Saudara sekalian, sekarang saya diminta untuk memberi sambutan amanat sekadarnya kepada resepsi pembukaan Kongres Baperki yang ke-VIII ini. Tadi Bapak Roeslan Abdulgani telah berkata, bahwa beliau bicara sebagai voorrijder dari saya. Saudara tahu, kalau saya resmi sebagai presiden berkendaraan mobil ke sesuatu tempat, lantas ada voorrijdernya. Orang-orang yang mendahului perjalanan mobil saya itu untuk membuka yalan, voorrijder. Malah ada yang lebih lagi mendahului perjalanan saya, itu bukan voorrijder, tetapi sweeper, penyapu bersih.
    Presiden harus diadakan voorrijder, harus diadakan sweeper. Sering saya berkata, mbok ya zonder voorrijder, zonder sweeper, tidak perlu pakai sirene mengaung-ngaung. Tetapi anggota-anggota pemerintah dan semua staf Istana berkata: “Menurut aturan harus demikian, Pak.” Jadi, ya, saya nurut saja. Maunya itu kadang-ka­dang saya mau ngluyur sendiri, Saudara-Saudara, tapi tidak boleh! Selalu harus dengan voorrijder, harus dengan sweeper.
    Nah, ini tadi Pak Roeslan bicara, kata beliau, sebagai voorrijder saya. Pada waktu saya mendengar pidato Pak Roeslan, saya kok ingat kepada kerbau dan gudel. Tahu gudel itu apa? Anak kerbau. Anak kerbau itu dalam bahasa Jawa dinamakan gudel. Anak ayam dinamakan kuthuk. Anak ikan bandeng dinamakan nener. Anak kuda dinamakan belo. Dalam bahasa Jawa anak kerbau dinamakan gudel. Ada peribahasa Jawa “kebo nyusu gudel”, kerbau menyusu kepada anaknya sendiri. Kerbau menyusu kepada gudel, kepada anaknya sendiri.
    Pak Roeslan itu dulu murid bapak, murid saya. Terutama sekali di dalam ilmu politik. Waktu belakangan ini, beberapa tahun belakangan ini tiap kali saya mendengar Cak Roeslan Abdulgani berpidato, saya mendapat perasaan, wah ini, gudelnya ini bukan main! Gudel ini ngalahkan kebo! Tapi saya senang dan bergembira atas hal yang demikian itu, moga-moga malahan Cak Roeslan dari gudel Menjadi lah banteng iang sehebat-hebatnya! Dan juga pemuda-pemuda, pemudi-pemudi yang duduk di situ supaya semuanya menjadi banteng-banteng Indonesia!
    Saudara-Saudara, Baperki sekarang mengadakan pembukaan kongresnya yang ke-VIII, masuk tahun yang ke-X, kata Cak Siauw. Dengan lentong Jawa Timur Cak Siauw tadi berkata, Baperki sekarang masuk usia yang ke-X. Jawa Timur-nya Cak Siauw, “Demokrasi Terpimpin”. Malah mengeluarkan perkataan tiap-tiap kali yang dimaksudkan itu alasan, beliau berkata “Alesan.” ..... Oo, itu dapat dari mana itu, perkataan “alesan”?!
    Saudara-Saudara, Baperki sekarang mengadakan kongres yang ke-VIII, saya diundang datang di sini. Jauh-jauh sebelum ada kongres ini, dan pada waktu pertama kali ditanya kepada saya: “Sudi apa kah kiranya PYM Presiden datang di kongres Baperki?” -saya menjawab, mau. Insya Allah, mau. Apa sebab? Sebabnya ya, Baperki itu satu perkumpulan yang baik. Baperki tegas berdiri di atas Pancasila. Baperki tegas membantu terlaksananya Amanat Penderitaan Rakyat. Baperki tegas berdiri di atas Manipol-Usdek dan lain-lain sebagainya. Baperki adalah salah satu dari Revolusi Indonesia. Oleh karena itu saya dating.
Ya, kita sekalian ini sebenarnya, Saudara-Saudara, untuk menyelesaikan Revolusi. Kalau, baik Nyonya Lie maupun Cak Siauw berkata: “Bung Karno yang tercinta”, saya mengerti itu sebenarnya bukan tercinta kepada persoon saya, meski pun hal ini ada ceritanya ini. Tetapi tercinta, cinta kepada Revolusi Indonesia, yang saya ini oleh MPRS dijadikan Pemimpin Besar Revolusi.
    Dan saya pernah berkata, saya tidak menganggap diri saya menjadi pemimpin. Saya tidak lah mengangkat diri saya menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Tidak!
    Di dalam salah satu pidato saya berkata, bahwa pemimpin itu, pemimpin yang pemimpin, bukan karena angkatan sendiri, tidak. Tetapi dia itu adalah perasan – wartawan, perasan! Dulu ada wartawan yang menulis perasaan, bukan, perasan, diperas..nah keluar. Satu rakyat berjoang, dalam perjoangan itu seperti memeras. Nah, keluar lah pemimpinnya. Pemimpin yang benar pemimpin adalah perasan dari perjoangan.
    Saya, Saudara-Saudara, dinamakan oleh Majelis Permusya­wa­ratan Rakyat, Pemimpin Besar Revolusi. Saya, barangkali saya ini adalah salah satu perasan dari Revolusi itu. Maka oleh karena itu manakala Cak Siauw atau Nyonya Lie mengucapkan kata tercinta kepada saya, saya kembalikan itu kepada Revolusi. Yang dicintai itu adalah Revolusi Indonesia. Yang dicintai itu adalah perjoangan untuk menye- lesaikan Revolusi Indonesia.
Baperki itu demikian. Berulang-ulang Baperki berkata, aktif menyelesaikan Revolusi Indonesia, tetap berdiri di atas segala hal yang mengenai Revolusi Indonesia, tetap berdiri di atas Pancasila, tetap berdiri di atas segala unsur-unsur untuk menyelesaikan Amanat Penderitaan Rakyat. Oleh karena itu saya dengan gembira dan senang hati datang di kongres-resepsi Baperki ini.
Saudara-saudara, saya ini diangkat menyadi Presiden Republik Indonesia berdasarkan Undang-undang Dasar 1945. Undang-undang Dasar 1945 itu begini, Saudara-saudara. Pada 17 Agustus 1945 dibacakan Proklamasi di Pegangsaan Timur yang sekarang berdiri di sana Gedung Pola. Maka di muka Gedung Poa itu ada tugu, tugu itu ditaruh persis di tempat yang dulu saya injak membacakan Proklamasi itu. Jadi kalau Saudara-Saudara ingin mengetahui tempat yang saya membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945, tugu Pegangsaan Timur 56 itu lah tempatnya.
Di atas tugu itu diadakan gambarnya petir, gambar bledek, oleh karena di tempat itu dulu dibacakan naskah proklamasi. Dan naskah proklamasi itu memang boleh dikatakan petir, geledek, yang didengarkan oleh 5 benua dan 7 samudera!
    Tempo hari saya pernah pidato, nama Indonesia itu terkenal dan termasyhur, pertama kali pada tahun 1883, tatkala gunung Krakatau, tatkala gunung Indonesia lah pertama kali mengorbitkan batu dan pasir Indonesia ke angkasa. Krakatau meledak, batu dan pasirnya disemburkan ke atas oleh Krakatau itu masuk ke dalam orbit mengelilingi dunia bertahun-tahun, sehingga tiap-tiap musim waktu senja, sore, langit di Amerika, langit di Eropa kelihatan warna dari pengorbitan batu-batu dan pasir-pasir Indonesia itu. Pada
1883 pertama kali Indonesia mengagumkan dunia.
Kemudian di dalam pidato, yaitu pidato Front Nasional 13 Februari yang lalu saya berkata, ke dua kalinya nama Indonesia termasyhur, yaitu 17 Agustus l945. Nah, Saudara-Saudara, saya menghendaki agar supaya nama Indonesia itu sering menjadi sebutan orang di dunia ini. Bukan karena perbuatan-perbuatan Indonesia yang jelek, tidak, tetapi hendaknya karena perbuatan-perbuatan bangsa Indonesia, rakyat Indonesia sebagai mercusuar, kataku, dari umat manusia di dunia ini.
    Saudara-Saudara, di dalam keadaan yang demikian itu lah kita sekarang ini berada, kita telah dapat memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, akan nanti terlaksana pada tanggal 1 Mei yang akan datang, tinggal puluhan hari lagi. Itu pun seperti satu ledakan dari gunung Krakatau, dilihat dan disaksikan oleh seluruh dunia. Kita telah dapat menyelesaikan soal keamanan dalam garis besarnya.
Tinggal satu yang belum, yaitu program ke tiga dari Triprogram Pemerintah, Sandang-pangan. Dan di sini kita sekalian harus mencurahkan kita punya tenaga agar supaya soal sandang-pangan ini lekas bisa terpecahkan.
    Dan tadi Pak Roeslan, Cak Roeslan, telah menggambarkan pada Saudara-Saudara, tekad daripada Pemerintah Republik Indonesia, bahwa Republik Indonesia, Pemerintahnya tetap memegang teguh kepada Triprogram ini. Tetap hendak menyelesaikan Triprogram ini. Tetap dus akan menyelesaikan program ke tiga dari Triprogram yang berbunyi sandang-pangan Bukan meninggalkan Triprogram ini, tetapi tetap berpegang teguh kepada Triprogram ini sambil mengintegrasikan segenap tenaga rakyat, apa yang dimaksudkan oleh Panca Program Front Nasional.
Nah ini, maka oleh karena Baperki dengan tegas menyokong, bukan saya menyokong, bahkan ikut serta, ingin ikut serta, ingin dibawa ikut serta di dalam pelaksanaan Panca Program Front Nasional itu, maka saya merasa amat sekali berbahagia dan memberi restu saya kepada Baperki.
Saya tadi berhata, saya berpidato di sini bukan saya sebagai Bung Karno yang tercinta, tetapi sebagai Presiden Republik Indonesia, Presiden dari Republik Indonesia, yang di dalam Undang-Undang Dasar 45 –  saya tadi belum ceritakan, dibacakan Proklamasi tanggal 17 Agustus 45, keesokan harinya, 18 Agustus 45, diterima lah dengan resmi oleh Musyawarah Pemimpin-Pemimpin, UUD 45. Jadi UUD 45 itu sebetulnya resmi lahirnya pada tanggal 18 Agustus 1945. Nah, Di dalam UUD 45 ini ada ditullis satu hal. Dan hanya sekali itu disebut, Saudara-Saudara, perkataan “asli”, yaitu bahwa Presiden Republik Indonesia harus seorang Indonesia asli. Dituliskan di dalam UUD 45, Presiden harus orang Indonesia asli. Saya orang Indonesia asli.. Garis tiga di bawah perkataan “dianggap” itu. Nah, taruh garis tiga di bawah perkataan “dianggap”. Dianggap, strip, strip, strip, “drie strepen onder dat woord” ‘dianggap’ orang Indonesia asli.
Saya sendiri menanya diri saya kadang-kadang. He Sukarno, apa kowe iki bener-bener asli? Ya, engkau itu dianggap asli Indonesia. Tetapi apakah saya betul-betul asli itu? Mboten sumerep (tidak tahu -red.). Saya tidak tahu, Saudara-Saudara. Coba lah, siapa bisa menunjukkan asli atau tidak asli dari darahnya itu. Saya ini tidak tahu, Saudara-Saudara, dianggap asli. Tetapi mungkin saya itu juga 10%, 5%, 2%, ada darah Tionghoa di dalam badan saya ini!
Kalau melihat sifat saya, Saudara-Saudara, saya ini sedikit-sedikit rupa Tionghoa. Nah, terang-terangan, saya ini kan rupanya saya sudah kelibatan sedikit Tionghoa! Lain dengan Cak Roeslan, sedikit Keling dia itu! Jadi siapa bisa menyebutkan dirinya asli atau tidak, itu sebetulnya, Saudara-Saudara.
Kalau melihat jaman dekat saya, Saudara-Saudara, jaman dekat, saya ini adalah anak hasil perkawinan dari orang suku Jawa dengan orang suku Bali. Ibu saya itu orang Bali, bapak saya orang Jawa. Saya sudah belasteran antara Bali dan Jawa. Belasteran. Ya maklum, Cak Siauw bicara Jawa Timur, saya juga Jawa Timur Jawa Timuran, arek Suroboyo! Ibu saya itu orang Bali. Katanya orang Bali itu ada darah dari Majapahit. Majapahit itu ada darah dari Hindu. Bahkan orang Majapahit itu banyak sekali turunan dari Campa, Saudara-Saudara. Barangkali Saudara-Saudara pernah baca di dalam kitab sejarah, di Majapahit itu banyak sekali puteri-puteri dari Campa. Putri Cempo, kata orang Surabaya. Jadi mungkin di dalam tubuh ibu itu sudah mengalir darah Campa.
Sayapun katanya dari suku Jawa, tapi bapak itu siapa tahu, campuran, campuran. Ayo, aku tanya kepada Saudara yang dudak di sini dengan dasi yang baik itu. Apa Saudara bisa mengatakan dengan jelas, darah apa yang mengalir di dalam tubuh Saudara? Tidak bisa. Maka itu, Saudara-Saudara, kalau saya sendiri, lho, sebagai persoon, saya sendiri tidak tahu asli atau tidak asli itu. Saya sendiri tidak mengadakan perbedaan antara asli dengan tidak asli. Tidak.
    Saya mau cerita satu rahasia, tatkala saya masih muda, Saudara-Saudara, hampir- hampir saya ini kawin dengan orang Nio! Saya cuma sebut nama, she-nya tidak saya sebutkan. Saya tidak sebutkan she-nya ya, ada she, lantas Thiam Nio. Hampir-hampir saja. Tapi, yaitu, pada waktu itu masih berjalan alam kolonial, alam pra-merdeka. Orang tunya Thiam Nio  – she-nya tidak saya sebutkan – dia berkata: “Masak kawin sama orang Jawa!” Saya dikatakan orang Jawa. Sepihak dari orang tua saya berkata: “Masak kawin sama orang Tionghoa, Peranakan Tionghoa!”
Alam demikian pada waktu itu, sehingga tidak terjadilah perkawinan antara Sukarno dengan Thiam Nio itu. He, tapi satu rahasia, lho! Jadi saya, Saudara-Saudara, saya sendiri tidak berdiri di atas asli atau tidak asli, tidak, tidak, sama sekali tidakl
Karena itu maka saya pada tanggal 1 Juni 1945, sebelum kita mengadakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, bahkan pada waktu itu di bawah ancaman bayonet Jepang, Saudara-Saudara, saya telah ucapkan “Lahirnya Pancasila”, yang tadi diterangkan pada pokok-pokoknya oleh Cak Roeslan Abdulgani. Lantas Cak Roeslan Abdulgani bertanya kepadamu sekalian, engkau anggota-anggota Baperki, apa kah betul-betul engkau memegang teguh kepada nasionalisme?! Memegang teguh kepada Pancasila?! Sebagai diucapkan beberapa kali.
Jawab Saudara-Saudara sekalian ialah, ya, kita berpegang teguh kepada Pancasila. Kita oleh karenanya cinta kepada tanah-air, bangsa Indonesia ini dari Sabang sampai ke Meraluke.
Di dalam “Lahirnya Pancasila” memang saya terangkan hal yang demikian itu. Saya citeer Ernest Renan. Kemudian saya koreksi. Ernest Renan adalah terlalu sempit. Saya koreksi dengan Otto Bauer, yang mengatakan, bahwa “Eine nation ist eine aus Schicksel­gemeinschaft erwachsene Karaktergemeinschaft”, sebagai yang diterangkan oleh Cak Roeslan. Ya, tapi Otto Bauer pun saya koreksi, saya bawa lanjut kepada persatuan dari tanah-air, hubungan antara manusia dengan buminya Itu tahun 45, Saudara-Saudara. Sekarang bagi saya sendiri, bahkan lebih dari itu. Saya adalah nasionalis Indonesia. Saya ada lah orang Indonesia. Saya adalah pencinta bangsa dan tanah-air Indonesia ini, bukan hanya oleh karena nasionalisme-ku ada lah satu jiwa ingin bersatu, Renan, ‘le desir d’etre ensemble’ yaitu keinginan untuk bersatu. Ingin kah kita bersatu ini, aku dengan engkau, dengan engkau, dengan engkau, dengan engkau, dengan engkau, dengan kita sekalian dari Sabang sampai Merauke?Lebih dari itu, kataku.
Otto Bauer berkata, bakan sekadar ingin bersatu, bukan sekadar satu jiwa, un ame, artinya jiwa, tidak. Bukan sekadar itu, tetapi adalah persatuan perangai. Karaktergeimeinchaft. Kita mempunyai kepribadian sendiri, karakter, karakter Indonesia. Ada kah engkau dari kepribadian ini?!
Ada kah engkau dari karakter ini? Ada kah karaktermu, karakterku, karaktermu sama? Lebih dari itu sekarang, Saudara-Saudara.
Di dalam “Lahirnya Pancasila” sudah saya tambahkan lagi persatuan antara manusia dengan buminya, yang bumi Indonesia ini oleh Tuhan Yang Maha Esa telah dikumpulkan menyadi satu antara dua benua dan dua samudra. Ini satu petunjuk. Dan bukan saya itu, kita dilahirkan di bumi ini, kita hidup di bumi ini, kita akan mati di bumi ini. Ada kah persatuan antaramu dengan bumi yang disatukan oleh Tuhan ini dari Sabang sampai ke Merauke? Satu pernyataan pula.
Sekarang aku tambah lagi, bagiku sendiri bukan sekadar persatuan antaraku dengan bumiku, dengan Sabangku, dengan Sumtateraku, dengan Jawaku, dengan Kalimantanku, dengan Baliku, dengan Lombokku, dengan Surabayaku, dengan Malukuku, dengan Irian Baratku, tidak. Bukan sekadar hubunganku, dus hubunganmu, mu, mu, mu, dengan geografi yang bernama Indonesia. Tidak.
Aku sudah naik kelas yang lebih tinggi dari itu, naik kelas kepada apa yang saya pernah ucapkan di sini, di gedung ini, Sport Hall Senayan, bahwa bagiku Indonesia adalah sudah lebih lagi daripada satu geografi, bahwa bagiku Indonesia sudah lebih lagi daripada rasa d’etre ensemble, bahwa bagiku Indoaesia sudah lebih daripada satu Karaktergemeinschaft. Sebab apa, kataku? Aku berkata secara poetis di dalam pidatoku itu waktu, kalau aku mencium, Indonesia. Kalau aku berdiri di pinggir pantai selatan dan aku menutupkan aku punya mata dan aku mendengarkan lautan sana itu berombak, bergelora membanting di pantai itu, aku mendengarkan Indonesia. Jikalau aku melihat awan putih berarak di atas gunung Tangkubanprahu, aku melihat awan-awan Indonesia, yang lain dengan awan-awan di Zwitzerland atau awan-awan di Amerika. Kalau aku mendengarkan burung perkutut menyanyi di pepohonan, aku mendengarkan Indonesia. Kalau melihat sinar matanya anak-anak yang berdiri di pinggir jalan, sinar mata anak-anak yang berteriakkan “Merdeka Pak, Merdeka, Merdeka”, aku melihat Indonesia. Bahkan aku melihat hari depan Indonesia.
    Indonesia bagiku adalah sudah satu totaliteit bukan sekadar satu geografi, bukan sekadar satu desir d’etre ensemble, bukan sekadar satu Gemeinschaft karakter. Nah, Indonesia sudah satu totaliteit bagiku. Awan, awan Indonesia. Bumi, bumi Indonesia. Laut, laut Indonesia. Geloranya laut itu, geloranya laut Indonesia. Suara burung, burung Indonesia. Sinar mata manusia, sinar mata Indonesia. Segala angin yang berbisik mengelilingiku ini, angin Indonesia. Dan itu semuanya kucintai.
Nah, aku bertanya kepada anggota-anggota Baperki, sudah kah Saudara-Saudara sekalian demikian? Sebab kita ini semuanya sudah seia-sekata mengabdi Revolusi, mengabdi kepada Amanat Penderitaan Rakyat yang harus dilaksanakan berdasarkan atas Manilpol, ber-dasarkan atas Usdek dan lain-lain sebagainya.
    Persatuan Bangsa yang saya sebutkan berulang-ulang itu sebenar-nya sekadar alat, Saudara-Saudara. Saya berkata di JAREK.. JAREK itu singkatan dari “Jalannya Revolusi Kita”, yang saya katakan seperti malaikat-, di dalam JAREK saya sudah berkata, persatuan adalah mutlak, absolut untuk mencapai tujuan kita. Jikalau kita benar-benar hendak menyelesaikan Revolusi kita, kita harus bersatu. Jikalau kita hendak benar-benar ingin menjadi mercusuar didalam hidup manusia di dunia ini, kita-harus. bersatu. Dan di dalam hal persatuan ini saya berkata, saya menghendaki supaja di dalam persatuan segala unsur bangsa Indonesia itu disatukan. Suku apa pun, ya suku Sumatera, ya suku Jawa, ya suku Kalimantan, ya suku Bali, ya suku apa pun, bersatu lah. Agama apa pun yang dipeluk oleh rakjat Indonesia ini, bersatu lah, dan jangan lah berpecah-belah di atas perlainan-perlainan agama itu. Asli atau tidak asli, bersatulah. Persatuan adalah mutlak , Saudara-saudara. Nah, maka oleh karena itu di dalam kita sekarang hendak melanjutkan Revolusi kita ini berlandaskan Manipol dan Usdek, dalam hal ini saya berkata, persatuan tetap mutlak, maka saya menghendaki agar supaja seluruh waragnegara, tanpa perbedaan asli atau tidak asli, tanpa perbedaan agama, tanpa perbedaan suku, semuanya di-Manipol-kan; semuanya kita mengerjakan Manipol dan Usdek itu!
     Sampai kepada sekolah-sekolah, yangan pun universitas-universitas, kepada sekolah-sekolah yang sedang melatih kita punya cindil-cindil abang (anak tikus -red.). Saudara-saudara, harus sudah di-Manipol-kan. Cindil-cindil kita yang duduk di bangku sekolah, Manipol-kan. Apalagi yang sudah gerang-gerang (besar), tua bangka seperti kita ini, Manipolkan semuanya!
 Nah itu lah, Saudara-Saudara, sebabnya, maka saya di sini pun minta kepada Baperki supaja bekerja keras di lapangan ini. Sekarang ini, sebagai tadi sudah saya katakan, Triprogram pemerintah itu satu belum terlaksana. Sandang-pangan. Dan memang ini adalah satu soal yang sulit, tetapi harus kita atasi. Dan sebagai dikatakan oleh Cak Roeslan tadi, pemerintah, dan terutama sekali presidennya, perdana menterinya, Bung Karno-nya telah berketetapan hati untuk terutama sekali berdiri di atas pengerahan tenaga rakyat.
Oleh karena itu maka Panca Program Front Nasional yang sudah saya katakan harus dilaksanakan oleh Front Nasional itu diintegrasikan di dalam usaha kita melaksanakan Triprogram Pemerintah ini. Baperki saya harap benar-benar membantu terlaksananya Pancaprogram Front Nasional itu, oleh karena dengan terlaksananya Panca Program Front Nasional, kita membantu juga terlaksananya seluruh Triprogram Pemerintah.
Saudara-Saudara, Revolusi berjalan terus, dan revolusi kita ini sebagai yang sudah saya katakan bukan revolusi kecil-kecilan, revolusi Pancamuka kataku, bahkan jikalau dipikir lebih luas, sebetulnya kataku, pada waktu aku berpidato kemarin-kemarin dulu—apa waktu itu ya, di Istana Negara, seminar Hukum Nasional—sebetulnya revolusi kita ini bukan lagi Pancamuka, panca itu lima, bukan Cuma lima, yaitu Revolusi Politik, Revolusi Nasional. Revolusi Ekonomi, Revolusi Sosial, Revolusi membentuk Manusia Baru. Lima, tidak, sebenarya revolusi kita itu ada lebih dari lima muka Maka boleh dikatakan Revolusi Saptamuka, sapta itu artinya tujuh. Bisa dinamakan hastamuka, hasta itu delapan. Boleh dinamakan dasamuka, dasa yaitu sepuluh.
Pendek kata revolusi kita ini adalah benar dikatakan satu revolusi multikompleks. “A summing up of many revolutioes in one generation”. Revolusi Indonesia itu adalah satu “nation building” Indonesia yang sehebat-hebatnja. Itu, nation building Indonesia yang sehebat-hebatnya. Dan didalam hal usaha nation building itu, segala unsur-unsur darispada nation buiIding harus diilaksanakan. Apa unsur nation building? Bukan sekadar soal ekonomi bukan sekadar soal politik, bukan sekadar soal kultur, bukan soal nama, tidak nation building adalah satu pekerjaan yang multikompleks pula.
Tujuan dari Revolusi Indonesia adalah nation building Indonesia. Nation building bukan didalam arti yang sempit, sekadar membentuk satu “nation” Indonesia. Tidak lebih dari itu pula. Nation Indonesia yang bahagia, nation Indonesia yang berkepribadian tinggi, nation Indonesia yang hidup di dalam satu masyarakat adil dan makmur tanpa exploitation de l’homme par l’homme. Nation building dalam arti yang seluas-luasnya.
Nah, ini yang kita kerjakan sekarang ini, Saudara-Saudara. Oleh karena itu saya berkata, jangan lah kita-jikalau kita hendak mendirikan nation Indonesia dalam arti yang luas itu- jangan kita masih berdiri di atas dasar-dasar yang usang, yang tadi disebutkan oleh Pak Roeslan Abdulgani.
Sudah pernah saya terangkan, kekuasaan imperialisme dulu di Indonesia apa? Negeri Belanda yang pada waktu itu rakyatnya hanya 6 juta, telah mengalahkan satu bangsa yang 40 juta. 6 Menjadi 7, 40 menjadi 50. 7 Menjadi 8, 50 menjadi 70. 8 juta menjadi 9 juta, sini menjadi 80 juta. Sekarang di sana 10 juta, sini 100 juta.
Pada waktu, imperialisme Belanda mengekang, mengereh, mengalahkan Indonesia, rakjat kecil mengalahkan Indonesia dengan apa? Saya sudah berkata, baca lah kitab dari Sir John Seeley. He, mahasiswa-mahasiswi, Sir John Seeley, menulis satu kitab yang ia beri judul ‘The Expansion of England”. Dan di situ persis ia terangkan juga, bangsa Inggris di India itu berapa orang? Hanya 40 ribu orang Inggris di India bisa mengalahkan satu rakyat yang 230 juta orang. 40 ribu mengalahkan 230 juta orang, dengan apa? Dengan alat-alat terutama sekali memecah-belah bangsa India itu, divide and rule, divide et impera.
Persis di sini pun gterjadi demikian. Di sini pun berjalan pemecah- Belahan. Di sini pun berjalan divide and rule. Oleh karena itu pernah saya beberkan segala usaha dari imperialisme ini dengan berkata, kekuasaan imperialisme itu ada dua macam. Dalam bahasa asingnya machtsfactor. Macht yaitu kekuasaan. Factor kekuasaan imperialisme itu dua macam. Ada yang riil, ada yang abstrak. Ada yang bisa dilihat, bisa diraba, ada yang tak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Yang riil yaitu machtsfactor, power factor yang riil. Apa itu? Angkatan perangnya, polisinya, penjara-penjaranya, bedil-bedilnya, meriam-meriamnya, itu ada lah power factor, machtsfactor yang riil.
Tapi ini tidak besar, Saudara-Saudara; lebih besar daripada machtsfactor yang riil ini adalah machtsfactor yang abstrak, yang tidak bisa dilihat, yang tidak bisa diraba. Dan machtsfactor yang abstrak ini apa kah, Saudara-Saudara? Terutama sekali ialah divide and rule policy, pemecah-belahan suku dihasut benyci kepada suku yang lain. Tidak ada persatuan, tidak boleh ada persatuan antara suku-sukuIndonesia.
Dan tidak boleh ada persatuan antara mayoritas dan minoritas. Dipisah-pisahkan majoritas dari minoritas. Malahan dibentuk minoritas yang benci kepada mayoritas dan dibuat majoritas ini benci kepada minoritas.
Kalau Saudara ingin mengetahui terjadinya minoritas, yang dinamakan minoritas Peranakan Tionghoa, minoritas Tionghoa di Indonesia ini, pemuda-pemuda, baca lah kitabnya Prof de Haan. Prof de Haan menulis kitab tebal, tiga jilid, titelnya yaitu “Priangan”, ditulis oleh Prof de Haan. Dan di situ Prof de Haan menerangkan, bahwa pihak Belanda dari jaman Jan Pieterszoon Coen membentuk satu minoritas untuk kepentingan mereka itu. Satu minoritas yang terdiri dari orang-orang Tionghoa dan Peranakan Tionghoa.
Dengan sengaja dipisahkan dari mayoritas. Dengan sengaja dipergunakan untuk kepentingan pibak Belanda sendiri. Dan ini merembes terus-menerus sampai jaman yang akhir-akhir ini, rasa tidak senang antara minoritas dan majoritas, majoritas terhadap minoritas. Sampai-sampai yang Thiam Nio itutadi tak bisa kawin dengan Bung Karno! Ya, dari pihaknya tidak mau, tidak boleh kawin sama orang Jawa, dari pihak saya pun tidak boleh kawin dengan Peranakan Tionghoa. Saudara-Saudara, bagaimana pun juga ini adalah akibat dari kolonialisme, akibait dari imperialisme. Maka oleh karena itu, Saudara-Saudara, kita didalaml Republik Indonesia, di dalam alam baru ini kita harus sama sekalitinggalkan dasar yang salah ini. Kita membentuk nation Indonesia yang baru, yaitu sebetulnya pun kelima dari Pancamuka Revolusi Indonesia ini. Dan di dalam hal ini Beperki bisa bekerja keras, bisa memberi sumbangan yang sebesar-besarnya. Terus terang saya, Saudara-saudara, saya pernah bicara dengan, bukan saja bicara, saya pernah berada di beberapa negara sosialis. Ya di Soviet Uni, ya di Rumania, ya di Bulgaria, ya di Vietnam Utara, ya di Cekoslowakia, ya di Polandia Malah saya di negara-negara itu berkata, hhh, Republik Indonesia lebih jauh dari kamu di sini. Pernah di kota Hanoi, ibukota negara Vietnam Utara, saya dengan Pak HO, Paman Ho, Ho Chi Minh. Datang lah suatu delegasi, Saudara-Saudara, satu delegasi dari satu golongan minoritas. Dan kelihatan, memang ini tidak sama dengan rakyat Vietnam yang lain. Ini kelihatannya agak kemelaju-melajuan, potongan badannya, roman mukanya, pakaiannya dan lain-lainnya kelihatan benar, ini adalah beda dari rakjat Vietnam Utara yang lain-lain.
Pak Ho, Ho Chi Minh, Paman Ho dengan bangga berkata kepada saya: “Bung Karno, ini adalah delegasi dari minoritas, ingin bertemu muka dengan Bung Karno”. Saya berkata kepada delegasi itu, dan kepada Pak Ho saya berkata, sebetulnya di Indonesia kita tidak mengenal minoritas. Dan saya tidak mau mengenal minoritas di lndonesia. Di Indonesia kita hanya mengenal suku-suku.
Saya tidak akan barkata, suku itu adalah minoritas, suku itu adalah minoritas, suku itu adalah minoritas, suku Dajak adalah minoritas, suku Irian Barat adalah minoritas, suku yang di Sumatera Selatan itu -suku Kubu- adalah minoritas, suku Tionghoa adalah minoritas, tidak! Tidak ada minoritas, hanya ada suku-suku, sebab mnanakala ada minorltas, ada mayoritas. Dan biasanya kalau ada majoritas, dia lantas exploitation de la minorite par la majorite, exploitatie dari minoriteit majoriteit.
Saya, tidak mau apa yang dinamakan golongan Tionghoa, Peranakan Tionghoa itu di-exploitation oleh golongan yang terbesar dari rakyat Indonesia ini, tidak! Tidak! Engkau adalah bangsa Indonesia, engkau adalah bangsa Indonesia, engkau adalah bangsa Indonesia, kita semuanya adalah bangsa lndonesia.
    Itu, yang duduk di sana, jenggot ganteng ubel-ubel itu .... Bung dari mana, Bung? Dari Medan? Dari mana? Coba sini! Siapa namanya? Jawabnya, Amar Singh, katanya. Anggota Baperki. Warga Indonesia. Haa, Indonesia! For me you are not a minority, you are just an Indonesian. Haa, ini orang Indonesia, Saudara-saudara, bukan minoriteit!
Saya kata Sama Paman Ho, di Indonesia itu paling-paling ada suku-suku. Suku itu apa artinya? Suku itu artinya sikil, kaki. Ja, suku artinya kaki. Jadi bangsa Indoaesia itu banyak kakinya, seperti luwing, Saudara-Saudara. Ada kaki Jawa, kaki Sumatera, kaki Dayak, kaki Bali, kaki Sumba, kaki Peranakan Tionghoa, kaki Peranakan. Kaki dari satu tubuh, tubuh bangsa Indonesia.
Nah, Pak Ho, kataku, demikianlah Indonesia. “Ja, that is better”, kata Pak-Ho. Ya memang, itu lebih baik, Saudara-Saudara, karena itu aku tadi berkata, ya kami baagga, Indonesia lebih, lebih dari di negara-negara sosialis atau negara-negara yang kita kenal sebagai sosialis. Tetapi, Saudara-Saudara, segala hal itu sebagai saya katakan di dalam pidato Front Nasional, adalah satu perjoangan. Jangan mengharap segala sesuatu itu beres, datang dari langit seperti embun di waktu malam, tidak!Perjoangan! Jikalau umpamanja Saudara-Saudara atau rakyat Indonesia semuanya ingin supaya di dalam UUD 45, UUD kita sekarang ini jangan lah ditulis “Presiden Republik Indonesia haruis orang Indonesia asli”, berjoang lah agar supaya hilang perkataan ini! Rakyat Indonesia berjoang bersama-sama supaya perkataan “asli” dari UUD 45 ini dicoret sama sekali.
Begitu pula kalau saudara-saudara menghendaki sdekarang ini hilangnya perasaan tidak enak dari mayoritas atau minoritas, kalau Saudara merasakan dirinya minoritas, itup un memerlukan perjoangan. Perjoangan agar supaya hilang rasa tidak senang kepada minoritas. Sebaliknya pun minoritas saya minta berjoang, berjoang, sekali lagi berjoang, agar supaya tidak ada rasa kebencian dari minoritas kepada majoritas.
Terus terang saja, Saudara-Saudara, saya pernah di dalam Gedung Senat Washington, Capitol Washington, saya pernah menggugat, apa kah benar Amerika itu berdiri di atas demokrasi. “Yes”, kata orang-orang yang ada di situ, senator-senator, Saudara-Saudara, orang-orang biasa. “Amerika berdiri di atas dasar demokrasi. Yes.”
Amerika menulis di dalam “Declaration of Independence”-nya, yang ditulis oleh Thomas Jefferson dalam 1776, bahwa semua manusia itu dilahirkan sama. “That all men are created equal”. Benar kah begitu?! “Yes. This is written in our Declaration of Independence, that all men are created equal.” Sama. Tidak ada perbedaan antara manusia dengan manusia. Bahwa manusia itu karena samanya, tiap tiap manusia mempunyai hak untuk life, liberty, the pursuit of happiness. Demikian lah tertulis di dalam “Declaration of Independence” Amerika. Bahwa manusia created equal, bahwa manusia semuanya itu mempunyai hak, hak yang primordial, hak yang terbawa dari sebelum ia lahir di dunia ini, sudah membawa hak tiga: life, liberty, kemerdekaan; the pursuit of happiness, mencari, mengejar kebahagiaan.
Manusia tidak dilahirkan untuk tidak “life”, manusia tidak dilahirkan di dunia ini untuk “tidak hidup”. Manusia tidak dilahirkan untuk tidak “liberty”, untuk tidak “merdeka”. Manusia tidak dilahirkan di dunia ini untuk dari kecilnya sudah membawa rantai di kakinya, tidak bisa bergerak ke mana-mana oleh karena ia orang tidak merdeka. Manusia tidak dilahirkan di dunia ini untuk tidak boleh pursuit of happiness, mengejar kebahagiaan.
Is it true, in your declaration of independence is written, life, liberty and the pursuit of happiness? “Yes, it is true”, kata senator-senator itu. Jadi diakui.
    Ada pertanyaan; bahwa all men are created equal, manusia dilahirkan sama, that all men boleh mengejar life, liberty, and the pursuit of happiness. Boleh, semuanya sama.
Waktu itu, perdebatan antara saya dengan senator-senator itu mengenai Irian Barat, Saudara-Saudara, sebab salah satu senator itu kulitnya agak hitam, memang dia adalah kulitnya agak hitam, dia membantah, kenapa kok Indonesia mau mengclaim Irian Barat? Sebab orang Irian Barat itu kulitnya hitam, lain ras dari Indonesia yang kebanyakan, kata senator itu.
Saya berkata, ha, Amerika mengatakan all men are created equal. Amerika mengatakan that all men boleh mengejar life, liberty, and the pursuit of happiness. Kenapa kok mengadalkan pernyataan demikian, kataku. Apa kah bangsa itu terdiri dari satu warna kulit? Sebaliknya kubertanya kepadamu, kenapa di Amerika masih ada egregation? Segregation yaitu orang Negro di beberapa tempat masih dianggap sobagai orang jang inferior. Restoran, only tor white men, orang hitam tidak boleh msuk restoran.
Movie, only for white men, tidak boleh orang bitam masuk di dalam movie itu. Autobus ditulis, only for white men. Tidak boleh orang Negro naik di autobus itu.
    Saya berkata demikian. Jawbnya bagaimana? Jawabnya ialah, ya, segala hal itu harus kami perjoangkan. Itu kan undang-undang yang mengatakan, bahwa all men are created equal.
Di dalam “Declaration of Independence” itu dia punya mukaddimah dari pernyataan kemerdekaan ialah ditulis, tulis zwart op wit, tetapi toh kertas, Saudara-Saudara, that all men are created equal. Di atas kertas ditulis, bahwa tiap-tiap manusia itu mempunyai hak atas life, 1iberty, and the pursuit of happiness, di atas kertas, but in the reality of life masih harus diperjoangkan.
    Segala itu adalah hasil dari perjoangan. Dan senator itu berkata: “Ya, kami senator- senator —kami yang duduk di sini ini kami memperjoangkan agar supaya di Amerika ini, tidak ada segregation. Kami memperjoangkan agar supaja orang Amerika semuanya suka menerima warganegara Amerika yang berkulit hitam sebagai warganegara yang full dan sejati.” Saya berkata, I can appreciate it. Saya bisa mengerti ini dan saya bisa appreciate ini.
    Sebaliknya pun aku berkata kepada bangsa Indonesia tempo hari, tatkala aku mengadakan pidato Front Nasional, jangan lupa segala sesuatu itu adalah perjoangan, harus kita perjoangkan, perjoangkan. Aku berkata, Panca Program itu bagiku pun satu perjoangan, saya harus mengerahkan segenap rakyat, mengerahkan segenap rakyat, mengerahkan segenap menteri, mengerahkan segenap pegawai, mengerahkan segenap petugas Republik Indonesia ini untuk menjalankan, melaksanakan Panca Program dari Front Nasional. Mengerahkan perjoangan!
    Karena itu, Saudara-Saudara, saya berkata jikalau rakyat Indonesia menghendaki supaya di dalam UUD-nya jangan ditulis “asli-aslian” sebagai Presiden, perjoangkan hal ini, kerahkan lah segenap tenaga, agar supaya hilang dari UUD kita. Jika bangsa Indonesia tidak mau mengeaal adanya minoritas dan mayoritas, jikalau bangsa Indonesia memang hanya mengenal satu bangsa Indonesia yang tiada mayoritas dan tiada minoritas, perjoangkan hal ini bersama-sama dengan saya, bersama-sama dengan pergerakan-pergerakan yang ada di Indonesia ini. Sebab itu tadi Pak Roeslan berkata, tanpa effort tidak bisa kita mencapai sesuatu hal.
Dus manakala saya di sini, Saudara-Saudara, memeluk Baperki, saya boleh juga dikatakan, saya mengajak Baperki untuk berjoang bersama-sama dengan saya, bersama-sama dengan seluruh rakyat Indonesia agar supaya Amanat Penderitaan Rakyat bisa selesai, agar supaya semua cita-cita kita bisa terlaksana.
    Ada pendirian-pendirian saya pribadi, ada, itu pribadi, Saudara- Saudara. Saja ulangi lagi, pribadi, mengenai soal asimlilasi misalnya yang tadi Cak Siauw berkata, mbok ya jangan diutik-utik soal asimilasi.
Ya, saya, tidak mau ngutik-ngutik, sebab Cak Siauw, wah itu bisa juga cuma menyimpangkan perhatian saja. Ya, Bung Siauw, saya tidak akan mengatik-utik. Tapi perasaan pribadi saya, saya ini tidak kenal Saudara-Saudara, akan perbedaan darah itu, tidak.
Nama pun, nama saya sendiri itu Sukarno, apa itu nama Indonesia asli? Tidak. Itu asalnya Sanskrit, Saudara-Saudara. Sukarna. Nah, itu Abulgani, Arab. Ya, Cak Roeslan namanya asal Arab, Abdulgani. Nama saya asal Sanskrit, Sukarna. Pak Ali itu campuran, Ali-nya Arab, Sastraamijaja itu Sanskrit, campuran dia itu.
Nah karena itu; Saudara-Saudara pun — ini perasaan saya persoonlijk, persoonlijk, pribadi— what is in a name? Walau 5audara misalnya mau menjadi orang Indonesia, tidak perlu ganti nama. Mau tetap nama Thiam Nio, boleh, boleh saja. Saya sendiri juga nama Sanskrit, Saudara-Saudara. Cak Roeslan namanya nama Arab, Pak Ali namanya campuran, Arab dan Sanskrit.
    Buat apa saya mesti menuntut, yang orang Peranakan Tionghoa yang mau menjadi anggota negara Republik Indonesia, mau menjadi orang Indonesia, mau ubah namanya, ini sudah bagus kok .. .... Thiam Nio kok mesti dijadikan Sulastri atau Sukartini. Yah, tidak? Tidak. Itu urusan prive. Agama pun prive, saya tidak campur-campur. Yang saya minta yaitu, supaja benar-benar kita menjadi orang Indonesia, benar-benar kita menjadi warganegara Republik Indonesia. Bahkan sebagai kukatakan tadi mbok ya seperti saya ini, kalau boleh saya pakai contoh, bukan sekadar Renand, bukan sekadar Otto Bauer, bukan sekadar geografi, kataku, lebilh dari ini, lebib dari ini, lebih dari geografi.  Indonesia bagiku adalah satu totalitas, ya burungnya, ya udaranya, ya suaranya, ya gelora lautnya, segala-galanya ialah Indonesia, Indonesia, Indoneisia, dan untukmu aku hidup di sini, kecuall di samping untuk Allah SWT.
Saudara-Saudara, kau tidak salah, duduk di muka saya ini penari ulung, apa betul? Dari Bandung? Apa betul dari Bandung? Dia itu, siapa namanya, lupa lagi saya. Tan Tian Ie, nah sini Nak, sini. Ini Tan Tian Ie misalnya kalau menari, Saudara-Saudara, menari tari-tarian Sunda.... hh, banyak wanita-wanita Sunda itu kalah sama dia. Dan dia betul-betul merasa Indonesia, sampai yaitu, segala tari-tarian yang lemah-lembut dia bisa tarikan.
Apa pernah saja berkata kepadamu, Tan Tian Ie, kau mesti ubah namamu?! Tidak.Tetap lah engkau bernama Tan Tian Ie.
Ini pendirian saya pensoonlijk, pribadi, Saudara-Saudara.
Baik saya mencurahkan rasa hatiku terhadap kepada Saudara-Saudara agar supaya Saudara-Saudara yang berkata kepadaku, Bung Karno yang tercinta, mengetahui betul-betul. Bung Karno ini apa! Bung Karno ini kecuali ini, daging, darah, tulang ialah rupa begini, isi hatinya ialah demikian.
Dan saya harap agar supaya Baperki dalam menjalankan tugasnya sebagai Baperki sebagai tadi sudah saya harapkan, berperasaan sama-sama dengan Bung Karno yang dikatakan dicintai oleh Saudara-saudara itu.
    Demikian lah, Saudara-Saudara, moga-moga kongres Baperki yang ke-VIII sukses, moga-moga Baperki selalu maju pesat, moga-moga Baperki benar-benar menjadi sumbangan yang besar terhadap kepada Revolusi Indonesia.
    
Sekian. Terima kasih.

Kejawen, Pengenalan

Definisi Kejawen
Kata Kejawen berasal dari kata ‘jawa’ atau dalam bahasa inggil disebut ‘jawi’
Kejawen merupakan identitas sejati orang jawa asli, mengenai bagimana orang jawa hidup, membawa diri, bersosialisasi dengan sesama manusia maupun interaksinya dengan alam dan yang paling penting adalah bagaimana orang jawa berhubungan dengan Gusti Allah.

Tidak ada batasan wilayah/daerah/teritori seseorang disebut Kejawen atau bukan. Bisa jadi ia seorag yang lahir, besar, hidup di tanah jawa tapi kesehariannya tidak mencerminkan budi/budaya jawa, maka dia tidak termasuk orang jawa sejati/kejawen.
Demikian sebaliknya, ketika seseorang berada jauh dari teritori tanah jawi tapi falsafah hidupnya meng-agung-kan nilai-nilai jawi, maka dia lah sejatinya yang disebut orang jawa/kejawen.
Tidak ada urusan dimana kita berdiri, melainkan bagaimana kita membawa diri. Itu filosifi dasarnya.
Jadi Kejawen itu bukan masalah jasad/raga, melainkan identitas ruhani/spiritual. Bukan masalah orang bisa ngomong bahasa jawa atau tidak, tapi masalah bagaimana, tata karma nya, bagaimana dia berbicara dan berperilaku sehari-hari dalam lingkup sosial nya.

Dasar-dasar Kejawen
Disebut diawal, ada dua sosi atau dua kunci utama yang harus dipegang teguh orang seseorang agar tetap bisa disebut sebagai orang jawa[kejawen].
Kedua kunci itu adalah :
1.      Kunci pintu Rumah
2.      Kunci pintu Langit
Pintu rumah adalah lambang interaksi antara orang jawa sebagai individu dengan lingkungannya, baik dengan manusia lainnya, maupun dengan alam
Pintu Langit adalah lambang interaksi antara orang jawa sebagai individu yang harus mempertanggung jawabkan diri dan harinya, kepada Sang Gusti.
Agar mampu mendapatkan 2 kunci itu, orang jawa harus memahami betul landasan/dasar-dasar kejawen. Perlahan satu-persatu kita bahas disini.


Ramalan Sabda Palon [yang lain]

Para Pencari Cahaya sejati..
Buku dengan judul: SAPTA PUDJANGGA, Djoyoboyo, Ronggowarsito, Sabdopalon. yang di tulis oleh: Saphire. Tidak jelas buku ini dulu tulis tahun kapan, tapi masih dalam ejaan bahasa Indonesia yang lama. Saya coba untuk merangkum kembali dalam bahasa Indonesia yang Baku, terutama pada halaman 25-28, terutama tentang Ramalan Sabdopalon
 RAMALAN SABDOPALON
Disalin: David Goh 
(Kutipan)wayangan.jpgwayangan.jpg   
Suatu hari dalam tahun 1478…… Sang Batara Surya yang memang semenjak pagi hari sudah senantiasa tertutup awan, hingga nampaknya sepanjang hari itu redup (timbreng. Red), kini hampir-hampir tak terasa sudah silam disebelah barat dan hari telah menjadi senja.     Dikala itu, selagi suasana disana sini nampaknya turut berduka cita atas runtuhnya Kerajaan Majapahit, tiba-tiba diatas salah sebuah gunung diwilayah jawa timur, tidak jauh dari malang, kelihatan tiga orang manusia yang nampaknya amat payahl etih, bermuram durja, putus asa dan tak tentu kemana hendak dituju duduk beristirahat diatas batu besar untuk melepaskan lelahnya.. 
(rangkuman)

     Ternyata 3 orang yang di maksud adalah,
Prabu Kertabumi atau Baginda Brawijaya V, sedang kedua lainya, yang disebut Noyogenggong dan Sabdopalon itu adalah kedua penggawa keraton (abdi. Red) yang setia dan tetap menghiringkan junjunganya yang waktu itu sedang buron. 
Kedua abdi ini sedang meghibur Junjungannya karena baru saja kerajaan majapahit rutuh dan direbut oleh musuh.. dimana Prabu Kertabumi kehlangan tahtanya..
Dan mereka mengatakan bahwa sudah merupakan nasib junjungannya, baik Dia sebagai Raja dan bagi raja-raja sebelumnya. dan juga sejarah setiap negra akan mengalami pasang surut kejayaan.singkat cerita Prabu Kertabumi tidak puas dengan keadaan dia yang sekarang menjadi buron.. maka kedua abdi memberikan masukan untuk menyusun kekuatan baru, untuk melawan kembali. 
(Kutipan)
Namun Prabunya dengan patah hati mengatakan: “Mesti besar semangatku, namun usiaku sudah lanjut benar, lagi pula kemungkinan untuk dapat mengumpulkan para pahlawan yang gagah berani telah tidak ada…….” 
” Ah.. jika demikian halnya, Gusti Prabu, nyatalah bahwa kekuatan keturunan Raden Wijaya atas kerajaan Majapahit telah tamatlah sudah. Pun tibala waktnya sudah bagi hamba untuk pulang kekayangan dan menjadi Raja di kerajaan Jin kembali……” tiba-tiba Sabdopalon campur bicara dan tidak lama kemudian ia telah menghilang.. 
Sang Prabu Kertabumi dan Noyogenggong tercengang-cengang, mereka menjadi lebih tercengang pula ketika mendenger suara sacopalon diatas angkasa yang mengatakan: 
” Salamat tinggal. Gusti Prabu, hamba barangkat kembali ke Kerajaan Jin dikayangan, Besok lima ratus tahun setelah hari ini saja akan datang kembali di tanah Jawa untuk menyebarkan dan memperkembangkan agamaku Budi atau Buddha.
Waktu itulah tibanya zaman Majapahit kedua atau zaman Majapahit yang penghabisan, yaitu zaman silamnya Perau Gabus dan mengambangnya Batu Hitam (hilangnya zaman feodal dimana tingkat manusia semaunya sama. Red).
Sebelum waktu itu maka terlebih dulu Nusa Jawa akan diinjak Kerbo Bule (Kebo Putih) selama 44 windu. Larinya Kerbo Bule karena datanya Satrya Kuning Cebol Kepalang (pandak), yang akan melepaskan Kerbo Edan ini akan menyerang Kerbo Bule setelah dari jurusan timur nampak warna, merah menyinsing karena bangunya Satya Putih Kuning yang berdarah merah.
Samapi disitulah Kerbo Bule pulang kandang. Besok timbul Ratu Kembar yang sama Bagusnya, Ratu Selawe yang sama berpengaruhnya. Susahnya orang jujur, gembiranya orang curang.
Perselisihan faham makin menjadi-jadi, huru hara merajalela, bencana alam meradang. Gunung-gunung api meletus mengeluarkan lahar, bengawan-bengawan bergeser dan meluap begitu rupa. Bahaya Air dan api datang bersilih ganti. Angin taufan, tanah longsor, bahaya kelaparan dan wabah penyakit menjadi-jadi.
Dalam perkembangan zaman yang sedemikian itu aku perintahakan anak cucuku, yaitu segenap manusia yang berada di nusa Jawa, supaya berlaku jujur, tenang, sabar takwakal, awas dan waspada. Karena kedatangku bakal bersamaan dengan datangnya Ratu Adil yang akan mengadili barang siapa yang melanggar perikemanusiaan, mengilas-gilas hukum negara, merampas hak milik orang lain, memeras, merampok, menggedor, memperkosa, makan suap, membunuh atau mematikan pencaharian hidup orang lain dan lain-lain perbuatan sewenang-wenagn yang melanggar dan menentang kehendak kodratullah dan kehendak Sang Hyang Agung, Sadarlah siapa yang ingin sadar dan pencayalah siapa yang ingin percaya……………” suara Sabdopalon ini makin tinggi di angkasa dan bergema begitu rupa untuk sementara akan kemudian lenyap…………….. 
“Nyatalah Sabdopalon terlah sirna, kaki disinilah aku ingin memberi tanda (tenger. Red)” Sang Prabu segera memberi tanda diatas batu tadi.
Setelah membuat tanda maka Prabu Kertabumi bersama Noyogenggong segera melanjutkan perjalannya yang makin jauh dan maij gelap dan main gelap itu.Dengan adanya tanda yang dibuat oelh Prabu Kertabumi tadi, maka gunung itu segera dikenal dengan nama Tenger (tanda), yang lambat laun menjadi Tengger. 
Salam Sejati


asal:
http://gantharwa.wordpress.com/2007/06/26/ramalan-sabdopalon/

Buku : Perjalanan Spiritual Menelisik Jejak Satrio Piningit

http://sabdopalon.wordpress.com/



Jalan Setapak

Menuju Nusantaa Jaya.

Perjalanan Spiritual

Menelisik Jejak Satrio Piningit









oleh :

Tri Budi Marhaen Darmawan – Nurahmad


Misteri Satrio Piningit tak pernah pupus dari benak dan relung hati anak cucu leluhur Nusantara. Fenomena sejak masa kewalian pasca kehancuran Majapahit ini sangat lekat terutama bagi anak cucu Jawa – Bali Dwipa.

Perjalanan sejarah Nusantara telah menjadi saksi hidup tentang kemunculan Satrio Piningit di setiap perubahan masa yang telah diwasiatkan oleh para leluhur Nusantara ratusan tahun yang lalu.

Raden Patah (Jimbun) adalah sosok Satrio Piningit dukungan para wali utamanya Sunan Bonang yang menandai berdirinya Kerajaan Demak setelah mampu menghapuskan supremasi Kerajaan Majapahit.
Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir) murid Sunan Giri merupakan Satrio Piningit pada masa berdirinya Kerajaan Pajang yang mengakhiri era Kerajaan Demak.
Panembahan Senopati (Sutowijoyo) murid Sunan Kalijaga juga merupakan Satrio Piningit pada masa berdirinya Kerajaan Mataram menggantikan eksistensi Pajang.
Dari beberapa peristiwa bersejarah tersebut mengandung makna yang tersirat bahwa kemunculan Satrio Piningit selalu berada pada pergantian ”masa besar” Nusantara dimana senantiasa tidak meninggalkan peran seorang wali (aulia).
Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY dapat pula dikatakan sosok Satrio Piningit pada masanya setelah Nusantara ini beralih menjadi NKRI.

Fenomena yang sangat menarik saat ini adalah : Akankah Satrio Piningit yang dikenal dengan nama Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu muncul pada masa ini ?

Mengingat dari situasi dan tanda-tanda alam yang terjadi mengindikasikan Nusantara akan memasuki ”era baru” yaitu : Jaman Kalasuba (kejayaan).

Buku ini berisikan ungkapan hasil ”perjalanan spiritual” penulis yang baru disadari kemudian telah masuk ke dalam pusaran misteri ini. Semoga membawa manfaat. Selamat membaca..


01 Pengantar

 

Diterbitkannya buku ini adalah sebagai persem-bahan penulis kepada seluruh anak bangsa di bumi Nusantara ini, sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban moral spiritual atas pe-nulisan “Surat Terbuka Kepada SBY” (lihat lampiran) oleh penulis yang telah dilayangkan pada tanggal 14 September 2006. Surat tersebut sebenarnya secara eksklusif hanya dikirimkan kepada Presiden RI, Mensekkab, Menko Kesra, Menteri ESDM, Mendagri, Mensos, dan juga MUI (Majelis Ulama Indonesia) melalui email dan faksimili. Namun di luar sepengetahuan penulis, ternyata surat tersebut telah beredar luas di beberapa blog di internet. Hal ini baru penulis ketahui setelah banyak tanggapan dari masyarakat luas yang masuk melalui email dan sms. Sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindarkan.
Memang pada akhirnya surat tersebut tidak mendapat tanggapan dari pihak yang ber-kompeten. Tetapi dari tanggapan dan masukan positif dari masyarakat pembaca surat tersebut menciptakan wacana tersendiri. Hingga penulis dibantu oleh saudara Nurahmad menayangkan sebuah blog di internet pada tanggal 10 Juni 2007 guna memaparkan dan menjelaskan hal-hal yang melatarbelakangi penulisan surat tersebut.
Blog itu dapat pembaca temukan di alamat web: http://nurahmad.wordpress.com, dengan titel: ”JALAN SETAPAK MENUJU NUSANTARA JAYA”. Materi tulisan yang dipaparkan adalah merupakan kajian dalam persepsi spiritual dari karya warisan leluhur nusantara, yaitu :
-          Bait-bait Syair Joyoboyo,
-          Serat Musarar Joyoboyo,
-          Ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong,
-          Serat Kalatidha R.Ng. Ronggowarsito,
-          Serat Darmo Gandhul, dan
-          Uga Wangsit Siliwangi.
Latar belakang penerbitan buku ini dimaksudkan pula guna lebih melengkapi dan memperjelas materi tulisan yang telah dipaparkan di dalam blog.
Esensi tulisan yang ada di dalam blog maupun buku ini adalah merupakan hasil ”perjalanan spiritual” penulis sejak bulan Oktober 2004.
Sebelumnya, dengan segala kerendahan hati secara pribadi penulis memohon maaf sebesar-besarnya kepada para Syeh Toriqoh dan para Winasis/Waskita Kasepuhan di seluruh nusantara ini atas kelancangan dan keberanian penulis menuangkan tulisan-tulisan di dalam buku ini.
Sebagai ”pejalan” penulis sadar sepenuhnya akan adab-adab yang berlaku sebagai seorang ”pejalan”. Namun nampaknya tanda yang muncul sangat jelas : ”Saatnya Sudah Tiba”.
Untuk itu pula buku ini diterbitkan dalam rangka diselenggarakannya ”Sarasehan Spiritual Jalan Setapak Menuju Nusantara Jaya” di Semarang pada tanggal 20 Desember 2007 dengan mencanangkan topik : ”REVOLUSI AKBAR SPIRITUAL NUSANTARA”. Insya Allah, saatnya tabir misteri nusantara terkuak.
Dalam mengungkapkan tulisan-tulisan dalam buku ini penulis berusaha memaparkan dengan gaya bahasa populer dan sesederhana mungkin agar mudah dipahami bagi semua pembaca dari segenap lapisan. Mengingat penyampaian bahasa hakekat fenomena spiritual bagi konsumsi akal pikiran masyarakat umum adalah sesuatu yang sangat sulit dan rumit. Karena bagi orang awam terkesan segala sesuatunya dihubung-hubungkan (gothak-gathuk mathuk). Secara hakekat, dalam kehidupan ini tidak ada kebetulan. Kebetulan sejatinya merupakan ketetapan yang telah ditetapkan-Nya sesuai Karsa (kehendak) Allah SWT. Kecuali bagi pembaca yang sedikit banyak telah mengenal kawruh (ajaran laku utama di dalam tirakat ataupun tarekat/toriqoh).
Maka membaca buku ini dibutuhkan kedewasaan dalam perenungannya dan kesadaran spiritual tanpa terjebak ke dalam fanatisme beragama. Secara jujur penulis katakan, bahwa semula penulis pun awam terhadap sejarah nusantara. Namun di dalam ”perjalanan” ini dihadapkan pada fenomena-fenomena spiritual yang membawa penulis ke dalam ”pusaran sejarah” yang banyak membawa hakekat sebagai bekal untuk ”berjalan” pada saat ini di jaman ini dan masa depan.
Tidak semuanya dapat penulis ungkapkan dalam buku ini, tetapi hanya berkenaan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan bangsa ini saja. Utamanya berkaitan dengan situasi carut marut negeri ini di tengah penyakit moral akut yang menjangkiti sebagian besar anak bangsa nusantara dewasa ini.
Tidak pula dalam buku ini penulis bermaksud membahas sejarah sesuai metodologi ilmiah sebagai disiplin dalam keilmuan sejarah. Namun penulis berupaya menyatakan kenyataan yang tersembunyi sesuai dengan fenomena spiritual yang muncul berkaitan dengan kejadian-kejadian atau situasi kondisi berkenaan di dalam sejarah dan masa kini. Sehingga kita semua mampu meraba situasi dan kondisi di masa yang akan datang guna tetap mawas diri, eling dan waspada. Benar tidaknya semua kita kembalikan kepada Allah Azza wa Jalla yang memiliki kerajaan bumi dan langit, yang Maha Menguasai dan Maha Mengetahui.
Tulisan di dalam buku ini merupakan hasil peng-alaman penulis melakukan perjalanan spiritual yang dilakukan sejak bulan Ramadhan (Oktober) tahun 2004.
Diawali pada saat itu selepas shalat maghrib penulis mendapat warid (bisikan hati atau dorongan bathin) untuk meninggalkan segala urusan duniawi dan menjumpai ”seseorang” di suatu tempat. Seseorang itu adalah orang biasa dan fakir (bukan kyai/ulama ataupun paranormal) yang tinggal di suatu perkampungan, dan sepengetahuan penulis beliau telah mukasyafah (terbuka mata bathinnya).
Singkat cerita beliau kemudian menjadi guru spiritual penulis yang pada akhirnya membimbing penulis dalam ber-tasawuf dengan pijakan melalui Toriqoh Qodiriyah (Syeh Abdul Qadir al Jillani) sejak Desember 2004 hingga saat ini.
Banyak sudah fenomena kegaiban yang dialami oleh penulis. Namun bagi penulis kegaiban demi kegaiban yang terlintas semata-mata untuk menambah keimanan atau keyakinan kepada Allah SWT, sehingga dapat lebih istiqomah dalam beribadah, mawas diri, eling dan waspada dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tipu daya ini.
Fenomena kegaiban yang berkaitan dengan tulisan yang dipaparkan dalam buku ini bermula ketika dalam bulan Desember 2004 (saat terjadi Tsunami Aceh) penulis menerima warid atau input spiritual berupa nama seseorang di alam kegaiban, yaitu: Dang Hyang Nirartha / Mpu Dwijendra / Pedanda Sakti Wawu Rawuh, yang merintis beberapa pura di pulau Bali seperti Pura Purancak, Rambut Siwi, Petitenget, Pulaki, dan lain-lain. Sebagai muslim, penulis sangatlah asing dengan nama dan sejatinya beliau. Penulis baru memahami siapa dan bagaimana tentang beliau setelah mendapatkan nama beliau yang terdapat di dalam beberapa referensi (Babad Tanah Bali dan Babad Manik Angkeran) yang didapat dari internet.
Selanjutnya berbagai input spiritual muncul yang mendorong penulis untuk mengunjungi berbagai tempat, seperti : dari Surabaya hingga Cirebon (Wali Songo), Makasar (Syeh Yusuf), Bone (Aru Palaka), Aceh (Syeh Malikussaleh), Bogor (Ki Ranggading), Surakarta (Pakubuwono X dan Mangkunegoro I), Trowulan Mojokerto (R. Wijaya dan Putri Campa), Blitar (Soekarno), dan berbagai tempat lainnya.
Baru pada bulan Mei 2006 penulis menerima input spiritual untuk pergi ke pulau Bali tepatnya di Pura Uluwatu (tempat moksha Dang Hyang Nirartha).
Akhirnya malam itu tanggal 13 Mei 2006 sesuai dengan input spiritual yang diterima, penulis telah berada di tempat itu bertepatan dengan Hari Waisyak bagi umat Budha, dan Hari Kuningan bagi umat Hindu. Malam purnama itu juga ditandai dengan meletusnya Gunung Merapi yang mengeluarkan laharnya ke arah barat daya, dan untuk pertama kalinya ditetapkan statusnya dari Siaga menjadi Awas Merapi.
Hasil memenuhi input spiritual tersebut kemudian muncul banyak ”bimbingan” dari kegaiban yang mendorong penulis untuk menelusuri karya-karya leluhur nusantara seperti yang dipaparkan dalam buku ini.
Karya-karya leluhur seperti : bait-bait syair Joyoboyo, Serat Musarar Joyoboyo, Ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong, Serat Kalatidha R.Ng. Ronggowarsito, Serat Darmogandhul, dan Uga Wangsit Siliwangi, semuanya baru penulis kenal dan ketahui pada kurun waktu itu selama dalam hidup penulis.
Akhirnya pada kurun waktu bulan Agustus hingga Desember 2006, penulis merasa mendapat jawaban yang lengkap tentang Misteri Nusantara dalam konteks yang tersirat di dalam karya-karya leluhur kita.
Suatu fenomena spiritual yang luar biasa dalam perjalanan spiritual penulis. Sungguh Maha Besar Allah dengan segala Kekuasaan-Nya dan Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya. Ternyata hakekat apa yang tersirat di dalam karya-karya leluhur nusantara itu menunjukkan situasi kondisi sosial dan kepemimpinan nusantara di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Apa yang tersirat dari fenomena spiritual yang muncul sangat berkaitan erat dengan kejadian carut marut nusantara saat ini. Dan semua itu merupakan sinyal pesan dari alam kegaiban yang seakan ingin disampaikan kepada seluruh anak cucu negeri ini bahwa : ”Saatnya sudah dekat, Nusantara akan memasuki jaman baru berikutnya (Kalasuba/Kejayaan) setelah melalui lubang jarum Kalabendu yang amat sulit dan pelik.
Banyak kejadian di luar akal pikiran manusia sebagai tanda bahwa sosok yang dinanti dan masih tersembunyi telah hadir di tengah-tengah kita saat ini.”
Buku ini berisikan kumpulan tulisan dari sdr. Nurahmad dan penulis dilengkapi dengan karya-karya warisan leluhur nusantara seperti yang telah dipaparkan di dalam blog ”Jalan Setapak Menuju Nusantara Jaya” di internet.
Secara khusus dalam buku ini penulis memberikan kesimpulan yang lebih jelas tentang segala sesuatunya yang terpapar berdasarkan input-input sipiritual yang diterima langsung oleh penulis. Semoga buku ini bermanfaat bagi seluruh anak cucu leluhur nusantara sebagai wacana dan bahan perenungan dalam menghadapi segala situasi yang sedang terjadi di negeri kita tercinta dewasa ini. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang istiqomah, eling dan waspada dalam menggapai ridho-Nya.
Salam Merah Putih…

Semarang, 20 Desember 2007
Tri Budi Marhaen Darmawan
081325388808













02 Menyibak Tabir Misteri Nusantara

Tulisan ini saya persembahkan untuk seluruh rak-yat nusantara sebagai ungkapan rasa ke-prihatinan atas carut marut yang sedang terjadi di bumi pertiwi ini.
Berawal dari komunikasi intensif saya dengan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan (penulis Surat Terbuka kepada SBY) telah membawa saya kepada pencerahan cakrawala pemahaman tentang apa dan bagaimana kejadian yang tengah berlangsung dan prediksi yang akan terjadi di negeri ini.
Bahkan tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa ini merupakan suatu upaya membedah warisan leluhur yang sarat dengan perlambang sehingga sedikit demi sedikit terkuak tabir misteri jagad nusantara ini. Sangat luar biasa. Hal ini sepatutnya bisa dipahami oleh seluruh anak cucu leluhur bangsa ini sebagai pewaris sah tataran tanah surgawi yang bernama Nusantara.
Hasil kajian spiritual bapak Budi Marhaen berusaha saya pahami dengan “rasa naluri” yang mendalam dengan tanpa mengabaikan logika berpikir sehat. Memang banyak hal sulit ditelusuri melalui referensi buku-buku sejarah atau dengan bukti-bukti empiris yang ada, namun dengan semangat menguak tabir misteri untuk lebih memahami fenomena yang terjadi saat ini, maka segala sesuatunya yang dapat saya cerna berusaha saya ungkapkan secara sederhana apa adanya di dalam blog/buku ini.
Ibarat mencari mata rantai yang hilang (missing link), nampaknya misteri yang ditinggalkan pasca keruntuhan Majapahit (500 tahun yang lalu) mulai terlihat secara samar-samar.
Sayapun mulai memahami apa makna yang tersirat dari saran bapak Budi Marhaen kepada SBY di dalam Surat Terbukanya kepada SBY: “Kumpulkanlah ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid / syeh-syeh yang telah mencapai maqom ma’rifat “Mukasyafah”, Pedanda-pedanda sakti agama Hindu, Bhiksu-bhiksu agama Budha yang telah sempurna, serta kasepuhan waskito dari Keraton Jogja, Solo & Cirebon, untuk bersama-sama memohon petunjuk kepada Allah SWT mencari siapa sosok orang yang mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri ramalan para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu mereka. Insya Allah, jika Allah Azza wa Jalla memberikan ijin dan ridho-Nya akan diketemukan jawaban-nya.”
Walaupun Surat Terbuka tersebut tidak mendapat tanggapan dari yang bersangkutan presiden SBY, namun saya memiliki keyakinan bahwa beliau bapak Budi Marhaen “mengetahui” sangat banyak tentang fenomena yang sedang terjadi di jagad nusantara ini.
Tanpa berniat mengundang perdebatan, semoga ungkapan saya dapat menjadi bahan perenungan kita bersama guna menyongsong fajar kejayaan Nusantara yang kita cintai.
Memahami Makna Karya Warisan Leluhur Nusantara
Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih kepada bapak Budi Marhaen atas pemberian referensi-referensinya berupa naskah : Bait-bait syair terakhir Ramalan Joyoboyo, Serat Musarar Joyoboyo, Uga Wangsit Siliwangi, Serat Darmagandhul, dan Ramalan Ronggowarsito.
Setelah saya membaca dan berusaha memahami dengan segala perenungan, maka sayapun menjadi takjub dibuatnya akan karya-karya beliau para leluhur kita. Antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/periode yang jauh berselang, namun ternyata di dalam perlambang-nya memiliki saling keterkaitan.
Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda. Saya merasakan bahwa tanpa intervensi kemampuan spiritual yang tinggi akan sangat sulit memahami keterkaitan perlambang-perlambang ini. Dan fe-nomena ini membuktikan bahwa hanya dengan mengandalkan akal penalaran saja akan mengantarkan kita kepada jalan buntu. Akhirnya menyerah pada keputusasaan dengan meng-anggap bahwa ini semua merupakan sekedar ramalan yang tidak berguna dan out of date (usang).
Masing-masing orang bisa saja menafsirkan hal tersebut dengan penafsiran yang berbeda-beda. Tidak ada yang melarang. Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri. Kebenaran sejati adanya di dalam nurani yang suci dan bersih. Dalam buku ini referensi-referensi tersebut dapat dibaca secara lengkap pada bagian lampiran.















Uga Wangsit Siliwangi
Membaca naskah Uga Wangsit Siliwangi terasa mengandung hakekat yang sangat tinggi bila telah memahaminya. Karena di dalamnya digambarkan situasi kondisi sosial beberapa masa utama dengan karakter pemimpinnya dalam kurun waktu perjalanan panjang sejarah negeri ini pasca kepergian Prabu Siliwangi (ngahiang/menghilang). Peristiwa itu ditandai dengan menghilangnya Pajajaran.
Dan sesuai sabda Prabu Siliwangi bahwa kelak kemudian akan ada banyak orang yang berusaha membuka misteri Pajajaran. Namun yang terjadi mereka yang berusaha mencari hanyalah orang-orang sombong dan takabur. Seperti diungkapkan dalam naskah tersebut berikut ini :
”Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”
  • “Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.”
Namun dalam naskah Wangsit Siliwangi ini dikatakan bahwa pada akhirnya yang mampu membuka misteri Pajajaran adalah sosok yang dikatakan sebagai ”Budak Angon” (Anak Gembala). Sebagai perlambang sosok yang dikatakan oleh Prabu Siliwangi sebagai orang yang baik perangainya.
”Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi.”
  • ”Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri de­ngan wewangian.”
Selanjutnya dikatakan juga apa yang dilakukan oleh sosok ”Budak Angon” ini sbb:
”Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.”
  • ”Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala; Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng, tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui, tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. Setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”
Dari bait di atas digambarkan bahwa sosok ”Budak Angon” adalah sosok yang misterius dan tersembunyi. Apa yang dilakukannya bukanlah seperti seorang penggembala pada umumnya, akan tetapi terus berjalan mencari hakekat jawaban dan mengumpulkan apa yang menurut orang lain dianggap sudah tidak berguna atau bermanfaat. Dalam hal ini dilambangkan dengan ranting daun kering dan tunggak pohon. Sehingga secara hakekat yang dimaksudkan semua itu sebenarnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan sejarah kejadian (asal-usul/sebab-musabab) termasuk karya-karya warisan leluhur seperti halnya yang kita baca ini. Dimana hal-hal semacam itu karena kemajuan jaman oleh generasi digital sekarang ini dianggap sudah usang/kuno tidak berguna dan bermanfaat. Pada akhirnya yang tersirat dalam hakekat perjalanan panjang sejarah negeri ini adalah berputarnya roda Cokro Manggilingan (pengulangan perjalanan sejarah).
Gambaran situasi jaman dalam naskah Wangsit Siliwangi diawali dengan lambang datangnya ”Kerbau Bule” dan juga ”Monyet-monyet” yang kemudian ganti menyerbu selepas Kerbau Bule pergi.
Ilustrasi ini melambangkan saat datangnya para penjajah yang berdatangan ke negeri ini, baik itu Portugis maupun Belanda. Dengan politik adu domba mereka maka terjadi peperangan antar saudara. Sejarah banyak yang hilang dan diputarbalikkan. Seperti yang tertulis berikut ini :
”Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!
Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.”
  • ”Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu: tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah negara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan. Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah! Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah, yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. Mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.”
Kemudian akhirnya masuk pada masa Perang Dunia II dengan datangnya pasukan Jepang yang dilambangkan dengan gemuruh yang datang dari ujung laut utara. Dimana masa penjajahan Jepang menandai berakhirnya penindasan di negeri ini. Terutama peristiwa jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima oleh Amerika, sebagai perlambang dalam naskah Wangsit Siliwangi bahwa situasi carut marut yang terjadi ada yang menghentikan yaitu orang seberang.
”Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.”
  • ”Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana sini. Lalu keturunan kita mengamuk: mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman; yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa; mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. Seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi, ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang seberang.”
Lalu selanjutnya terdapat suatu masa yang digambarkan dengan munculnya seorang pemimpin negeri ini dengan gambaran sbb :
”Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala!”
  • ”Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan raja; penguasa baru susah dianiaya!”
Siapakah sosok yang dimaksud dalam bait ini? Dia adalah Soekarno, Presiden RI pertama. Ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sejatinya adalah Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk ”anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo. (Silakan dibuktikan..)
Pada masa kepemimpinan Soekarno banyak terjadi upaya pembunuhan terhadap diri beliau, namun selalu saja terlindungi dan terselamatkan.
Selanjutnya setelah berganti masa digambarkan bahwa semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli, memerintah sambil menyembah berhala. Kondisi ini melambangkan pemimpin yang tidak mau mengerti penderitaan rakyat. Memerintah tidak dengan hati tapi segala sesuatunya hanya mengandalkan akal pikiran/logika dan kepentingan pribadi ataupun kelompok sebagai berhalanya.
Sehingga yang terjadi digambarkan banyak muncul peristiwa di luar penalaran. Menjadikan orang-orang pintar hanya bisa omong alias pinter keblinger, seperti yang dikatakan sbb :
”Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.”
  • ”Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli, memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omong­an, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Sudah pasti: bunga teratai hampa sebagian, bunga kapas kosong buahnya, buah pare banyak yang tidak masuk kukusan. Sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar keblinger.”
Dalam situasi dan kondisi tersebut yang tidak berbeda dengan saat ini, kemudian muncul sosok orang yang dikatakan dalam naskah Wangsit Siliwangi sbb :
”Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.
Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; ming­kin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!”
  • ”Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Mem-bangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar keblinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan ke penjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan. Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa me­reka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.”
Sosok ”Pemuda Berjanggut” di atas adalah lambang laki-laki sejati yang sangat kuat prinsip dan akidahnya serta selalu eling (dilambangkan dengan baju serba hitam). Dan dia juga seorang yang tekun dan taat beribadah serta kuat dalam memegang ajaran leluhur (dilambangkan dengan menyanding sarung tua). Digambarkan bahwa di tengah situasi negeri yang panas membara (carut marut) dimana manusia dipenuhi nafsu angkara, ”Pemuda Berjanggut” datang mengingatkan yang pada lupa untuk kembali eling. Namun tidak dianggap.
Lalu pada alinea menjelang akhir dikatakan :
”Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.”
  • ”Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mu’jizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri. Kapan waktunya? Nanti, saat munculnya Anak Gembala! Di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. Yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar, dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.”
Situasi tersebut di atas adalah gambaran apa yang terjadi sekarang ini. Kalau kita perhatikan dengan cermat alinea ini, maka memang saat ini seluruh rakyat sedang berharap-harap menunggu datangnya mu’jizat di tengah-tengah carut marut yang sedang berlangsung di negeri ini.
Lebih-lebih utamanya rakyat korban lumpur Lapindo yang kian hari makin kian sengsara.
Bencana datang bertubi-tubi. Huru-hara terjadi di mana-mana. Dan akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kasus perebutan tanah. Fenomena paling tragis dalam perebutan tanah pada masa ini (2007) ditandai dengan kasus Pasuruan yang membawa 4 korban tewas rakyat kecil di tangan aparat.
Pemuda Gendut merupakan lambang orang yang rakus dan serakah serta memiliki kepentingan pribadi.
Dalam bait ini dikatakan bahwa penguasa tersebut akan tumbang pada saat munculnya “Budak Angon”. Dimana kemunculannya ditandai dengan banyak terjadi huru-hara yang bermula di daerah lalu meluas ke seluruh negeri.
Dalam mengkaji Wangsit Siliwangi ini kita telah menemui lelakon atau pemeran utama yang dikatakan dengan istilah ”Budak Angon” (Anak Gembala) dan ”Budak Janggotan” (Pemuda Berjanggut). Coba mari kita simak alinea berikut :
”Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!”
  • ”Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari Budak Angon, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi Budak Angon sudah tidak ada, sudah pergi bersama Budak Janggotan, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!”
Perselisihan yang terjadi adalah sia-sia belaka. Karena selalu saja pihak penguasa membantu yang kuat, berdiri angkuh di atas yang lemah. Ada saat dimana ”wong cilik” sebagai lambang ”si lemah yang tertindas” mencari penuh harap sosok ”Budak Angon dan Budak Janggotan.” Namun yang dicari sulit ditemukan karena telah pergi ke Lebak Cawéné.
Dimanakah Lebak Cawéné ? Lebak Cawéné adalah suatu lembah seperti cawan, yang dikatakan di dalam Serat Musarar Joyoboyo sebagai Gunung Perahu. Tempat itu digambarkan sebagai suatu lembah atau bukit dimana permukaannya cekung seperti tertumbuk perahu besar. Dikatakan oleh bapak Budi Marhaen, secara gambaran spiritual, di tempat itu terdapat 2 sumber air besar dan ditandai dengan 3 pohon beringin (Ringin Telu).
Lebih lanjut dikatakan :
”Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui saka­béhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati. Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon! Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!”
  • ”Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, carilah Anak Gembala. Segeralah pergi. Tapi ingat, jangan menoleh ke belakang!”
Perlambang gagak berkoar di dahan mati, ber-makna situasi dimana banyak suara-suara tanpa arti. Rakyat menjerit-jerit, penguasa mengumbar janji-janji kosong. Sedangkan negara digam-barkan banyak ditimpa bencana. Sekarang ini banyak gunung di nusantara sedang aktif bahkan beberapa gunung telah meletus. Ribut seluruh bumi merupakan lambang keresahan dunia internasional dewasa ini terhadap perubahan iklim dunia dan pemanasan global. Hal ini ditandai dengan banyak bencana yang terjadi di banyak negara.
Nampaknya kita sedang memasuki tahapan situasi ini. Mari kita renungkan dan perhatikan dengan apa yang sedang terjadi di seluruh negeri ini. Gunung-gunung telah mulai aktif, banyak terjadi bencana dengan unsur Air, Api, Angin dan Tanah dimana-mana, banyak pula terjadi huru-hara (demonstrasi/kerusuhan) sebagai lambang ketidakpuasan di berbagai tempat. Apakah ini terjadi secara kebetulan? Tentu bagi yang memahami, ini semua adalah merupakan skenario langit.
Lalu, siapakah ”Budak Angon” itu? Dari bait tersebut diperlambangkan bahwa budak angon adalah orang sunda atau berdarah sunda. Hal ini akan kita bedah lagi setelah sampai pada kesimpulan setelah kita mengkaji karya-karya leluhur lainnya.
Serat Musarar Joyoboyo
Di dalam uraian ini saya akan mengawali dengan menandai suatu masa atau periode dalam Sinom bait 18 yang berbunyi :
”Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.”
  • ”Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah..”
Lung gadung rara nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan sering tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada presiden pertama RI, Soekarno.
Sedangkan Gajah meta semune tengu lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto.
Dalam bait ini juga dikatakan bahwa negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum. Ingat, usia kemerdekaan NKRI di tahun 2007 saat ini adalah 62 tahun.
Dalam bait 20 dikatakan :
”Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.”
  • ”Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram.”
Bait ini menggambarkan situasi negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila). Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji loro semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono). Hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.
Lalu pada bait 21 tertulis :
”Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.”
  • ”Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (orang pandai) tidak berdaya. Rakyat kecil sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar.”
Situasi negara dalam bait ini digambarkan bahwa kekuatan asing memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang pandai berpendidikan tinggi dilambangkan tidak berdaya (pinter keblinger). Kondisi rakyat kecil makin sengsara saja. Perlambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar bermakna seorang pemimpin wanita yang selalu diintai oleh dua saudara wanitanya seolah ingin menggantikan. Perlambang ini menunjuk kepada Megawati, presiden RI kelima yang selalu dibayangi oleh Rahmawati dan Sukmawati.
Pada bait 22 dikatakan :
”Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika.”
  • ”Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.”
Perlambang Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Ini menunjuk kepada presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.
Sedangkan perlambang Semarang Tembayat merupakan tempat dimana tempat seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi.
Semarang Tembayat merupakan tempat yang masih misteri dimana di dalam Surat Terbuka kepada SBY bapak Budi Marhaen menggambarkan sbb :
”Jawaban dan solusi guna mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di ”Semarang Tembayat” yang telah diungkapkan oleh Prabu Joyoboyo. Guna membantu memecahkan misteri ini dapatlah saya pandu sebagai berikut :
  1. Sunan Tembayat adalah Bupati pertama Semarang. Sedangkan tempat yang dimaksud adalah lokasi dimana Kanjeng Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Sunan Tembayat untuk pergi ke Gunung Jabalkat (Klaten). Secara potret spiritual, lokasi itu dinamakan daerah “Ringin Telu” (Beringin Tiga), berada di daerah pinggiran Semarang.
  2. Semarang Tembayat juga bermakna Semarang di balik Semarang. Maksudnya adalah di balik lahir (nyata), ada batin (gaib). Kerajaan gaib penguasa Semarang adalah “Barat Katiga”. Insya Allah lokasinya adalah di daerah “Ringin Telu” itu.
  3. Semarang Tembayat dapat diartikan : SEMARANG TEMpatnya BArat DaYA Tepi. Dapat diartikan lokasinya adalah di Semarang pinggiran arah Barat Daya.”
Kemudian pada bait 27 berbunyi :
“Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung putih, semune Pudhak kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku, Juluk Ratu Amisan, Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan,”
  • “Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.”
Perlambang Tunjung putih semune Pudak kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama “Satrio Piningit”.
Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.
Sedangkan bait 28 tertulis :
“Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad.”
  • “Raja utusan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.”
Bait ini menggambarkan bahwa pemimpin tersebut adalah hasil didikan atau tempaan seorang Waliyullah (Aulia) yang juga selalu tersembunyi.
Berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa merupakan perlambang yang bermakna bahwa pemimpin tersebut selain ber-Islam sejati namun juga berpegang teguh pada kawruh Jawa (ajaran leluhur Jawa tentang laku utama).
Sedangkan gunung Perahu seperti telah disinggung di atas adalah Lebak Cawéné. Kembali lagi, dimana tempatnya? Kita telah membaca bait 22 di atas. Ya di Semarang Tembayat itulah tempatnya.
Sedangkan tempuran adalah pertemuan dua sungai di muara yang biasanya digunakan untuk tempat bertirakat ”kungkum” bagi orang Jawa. Namun di sini tempuran bermakna ”watu gilang” sebagai tempat pertemuan alam fisik dan alam gaib. Dalam budaya spiritual Jawa keberadaan watu gilang sangat lekat dengan eksistensi seorang raja.
Insya Allah.. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin Nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan Nusantara sebagai ”barometer dunia” (istilah Bung Karno : ”Negara Mercusuar”).
Bait-bait Terakhir Ramalan Joyoboyo
Dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo digambarkan suasana negara yang kacau penuh carut marut serta terjadi kerusakan moral yang luar biasa. Namun dengan adanya fenomena tersebut kemudian digambarkan munculnya seseorang yang arif dan bijaksana yang mampu mengatasi keadaan. Berikut adalah cuplikan bait-bait tersebut yang menggambarkan ciri-ciri atau karakter seseorang itu :
159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu; bakal ana dewa ngejawantah; apengawak manungsa; apasurya padha bethara Kresna; awatak Baladewa; agegaman trisula wedha; jinejer wolak-waliking zaman; …
  • selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu); akan ada dewa tampil; berbadan manusia; berparas seperti Batara Kresna; berwatak seperti Baladewa; bersenjata trisula wedha; tanda datangnya perubahan zaman; …
160.
…; iku tandane putra Bethara Indra wus katon; tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa
  • …; itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak; datang di bumi untuk membantu orang Jawa
162.
…; bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis; tan kasat mata, tan arupa; sing madhegani putrane Bethara Indra; agegaman trisula wedha; momongane padha dadi nayaka perang perange tanpa bala; sakti mandraguna tanpa aji-aji
  • …; pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar, tak kelihatan, tak berbentuk; yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha; para asuhannya menjadi perwira perang; jika berperang tanpa pasukan; sakti mandraguna tanpa azimat
163.
apeparap pangeraning prang; tan pokro anggoning nyandhang; ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang; …
  • bergelar pangeran perang; kelihatan berpakaian kurang pantas; namun dapat mengatasi keruwetan banyak orang; …
164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
  • …; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong
166.
idune idu geni; sabdane malati; sing mbregendhul mesti mati; ora tuwo, enom padha dene bayi; wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada; garis sabda ora gentalan dina; beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira; tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa; nanging inung pilih-pilih sapa
  • ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti), yang membantah pasti mati; orang tua, muda maupun bayi; orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi; garis sabdanya tidak akan lama; beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya; tidak mau dihormati orang se tanah Jawa; tetapi hanya memilih beberapa saja
167.
waskita pindha dewa; bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira; pindha lahir bareng sadina; ora bisa diapusi marga bisa maca ati; wasis, wegig, waskita; ngerti sakdurunge winarah; bisa pirsa mbah-mbahira; angawuningani jantraning zaman Jawa; ngerti garise siji-sijining umat; Tan kewran sasuruping zaman
  • pandai meramal seperti dewa; dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda; seolah-olah lahir di waktu yang sama; tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati; bijak, cermat dan sakti; mengerti sebelum sesuatu terjadi; mengetahui leluhur anda; memahami putaran roda zaman Jawa; mengerti garis hidup setiap umat; tidak khawatir tertelan zaman
168.
mula den upadinen sinatriya iku; wus tan abapa, tan bibi, lola; awus aputus weda Jawa; mung angandelake trisula; landheping trisula pucuk; gegawe pati utawa utang nyawa; sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan; sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda
  • oleh sebab itu carilah satria itu; yatim piatu, tak bersanak saudara; sudah lulus weda Jawa; hanya berpedoman trisula; ujung trisulanya sangat tajam; membawa maut atau utang nyawa; yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain; yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan
170.
ing ngarsa Begawan; dudu pandhita sinebut pandhita; dudu dewa sinebut dewa; kaya dene manungsa; …
  • di hadapan Begawan; bukan pendeta disebut pendeta; bukan dewa disebut dewa; namun manusia biasa; …
171.
aja gumun, aja ngungun; hiya iku putrane Bethara Indra; kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan; tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh; hiya siji iki kang bisa paring pituduh marang jarwane jangka kalaningsun; tan kena den apusi; marga bisa manjing jroning ati; ana manungso kaiden ketemu; uga ana jalma sing durung mangsane; aja sirik aja gela; iku dudu wektunira; nganggo simbol ratu tanpa makutha; mula sing menangi enggala den leluri; aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu; beja-bejane anak putu
  • jangan heran, jangan bingung; itulah putranya Batara Indra; yang sulung dan masih kuasa mengusir setan; turunnya air brajamusti pecah memercik; hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya; tidak bisa ditipu; karena dapat masuk ke dalam hati; ada manusia yang bisa bertemu; tapi ada manusia yang belum saatnya; jangan iri dan kecewa; itu bukan waktu anda; memakai lambang ratu tanpa mahkota; sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati; jangan sampai terputus, menhadaplah dengan patuh;  keberuntungan ada di anak cucu
172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada; ing zaman kalabendu Jawa; aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa; cures ludhes saka braja jelma kumara; aja-aja kleru pandhita samusana; larinen pandhita asenjata trisula wedha; iku hiya pinaringaning dewa
  • inilah jalan bagi yang ingat dan waspada; pada zaman kalabendu Jawa; jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa; yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga; jangan keliru mencari dewa; carilah dewa bersenjata trisula wedha; itulah pemberian dewa
173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti
  • menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi
Sampai di sini kita akan dapat mulai memahami siapakah yang dikatakan oleh Prabu Joyoboyo dengan istilah “Putra Betara Indra” itu?
Bait-bait tersebut telah mengurai secara rinci tentang ciri-ciri dan karakter orang tersebut. Putra Betara Indra tidak lain dan tidak bukan adalah Waliyullah (aulia) yang tertulis di dalam sinom bait 28 pada Serat Musarar Joyoboyo.
Perlambang paras Kresna dan watak Baladewa bermakna satria pinandhita. Karena hakekat dua bersaudara Kresna dan Baladewa (Krishna Balarama) melambangkan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dimana Kresna melambangkan pencipta, sedangkan Baladewa melambangkan potensi kreativitas­nya. Dua bersaudara Kresna dan Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai penggembala sapi. Dengan hakekat ini setidaknya kita dapat meraba bahwa Putra Betara Indra adalah juga “Budak Angon” (Anak Gembala) yang telah dikatakan oleh Prabu Siliwangi di dalam Uga Wangsit Siliwangi.








Ramalan Satrio Piningit Ronggowarsito

Di dalam ramalan Ronggowarsito dipaparkan ada tujuh Satrio Piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang di kemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit. Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :
1.      SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan mem-bebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945 -1967.

2.      SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.
Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

3.      SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR.
Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

4.      SATRIO LELONO TAPA NGRAME.
Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.

5.      SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.
Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.

6.      SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO.
Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

7.      SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.
Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.
Selain masing-masing satrio itu menjadi ciri-ciri dari masing-masing pemimpin NKRI pada setiap masanya, ternyata tujuh satrio piningit itu melambangkan tujuh sifat yang menyatu di dalam diri seorang pandhita yang telah kita tahu adalah Putra Betara Indra yang juga Budak Angon seperti telah diungkap di atas. Berikut ini adalah sifat-sifat “Satrio Piningit” sejati hasil bedah hakekat bapak Budi Marhaen terhadap apa yang telah ditulis oleh R.Ng. Ronggowarsito :
  1. Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro
    melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimi­liki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma’rifat sebenar-benar ma’rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu’.
  2. Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
    melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.
  3. Satrio Jinumput Sumelo Atur
    melambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.
  4. Satrio Lelono Topo Ngrame
    melambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.
  5. Satrio Hamong Tuwuh
    melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.
  6. Satrio Boyong Pambukaning Gapuro
    melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Cawéné = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.
  7. Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
    melambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pinandhita atau alim yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang Aulia (waliyullah).













Serat Kalatidha Ronggowarsito
Guna memperlengkapi wacana kita tentang sifat dan karakter “Satrio Piningit” yang telah diurai di atas, ada baik­nya kita cermati pula Serat Kalatidha karya Ronggowarsito yang tertuang dalam Serat Centhini jilid IV (karya Susuhunan Pakubuwono V) pada Pupuh 257 dan 258. Kutipan berikut ini menggambarkan situasi jaman yang terjadi dan akhirnya muncul sang Satrio yang dinanti :
Pupuh 257 (tembang 28 s/d 44) :
Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.
  • Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.
Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.
  • Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.
Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.
  • Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.
Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.
  • Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan / perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.
Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.
  • Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.
Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.
  • Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati.
Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.
  • Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.
Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.
  • Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.
Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak-cakrak.
  • Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.
Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.
  • Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan berbeda-beda tingkah laku / pendapat orang se-negara.
Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.
  • Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda-tanda yang tersembunyi dalam peristiwa ini.
Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.
  • Berupaya tanpa pamrih.
Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan.
  • Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan.
Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.
  • Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.
Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.
  • Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.
Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.
  • Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).
Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.
  • Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka.
Pupuh 258 (tembang 1 s/d 7) :
Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.
  • Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda.
Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.
  • Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama.
Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.
  • Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.
Luwih adil paraarta, lumuh maring branaarta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.
  • Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (pemimpin yang memiliki wahyu), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya (pasukan Allah) dan senjatanya adalah se-mata2 dzikir, musuh semua bisa dikalahkan.
Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha.
  • Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima.
Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.
  • Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.
Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.
  • Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.
Dari gambaran yang tertulis di dalam Serat Kalatidha di atas, maka kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Percaya atau tidak, kenyataannya semua yang telah digambarkan para leluhur nusantara ini telah terjadi dan sedang berlangsung serta insya allah akan terjadi, baik lambat ataupun cepat.
Karena apa yang telah dituangkan para leluhur kita dalam bentuk karya sastra adalah hasil “olah batin” ataupun “perjalanan spiritual” beliau-beliau di dalam menangkap lambang-lambang-Nya di alam nyata maupun gaib.
Inilah yang diistilahkan dalam kawruh jawa sebagai Sastrajendra Hayuningrat (sastra tanpa wujud – papan tanpa tulis, tulis tanpa papan). Sehingga dalam mengungkapkannya penuh dengan perlambang (pasemon ataupun sanepan).
Semuanya hanya ingin mengingatkan kita anak cucu leluhur nusantara ini untuk senantiasa Eling dan Waspada.



( Nurahmad )

03 Menelisik Misteri Sabdo Palon

 

Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon.
Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yang membuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan akhirnyapun dapat dirunut secara logika historis.
Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon? Karena kata ”Sabdo Palon Noyo Genggong” sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V (memerintah tahun 1453 – 1478) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.
  • …; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.
  • menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi.















Serat Darmagandhul
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan toleransi yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.
Dalam serat Darmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada per-temuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan.
Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit.
Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam.
Namun karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :
”Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”
  • ”Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”
Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :
”…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; …”
  • ”…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; …”.
Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal sebagai ”Manik Maya” atau hakekat ”Semar”.
”Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. …..”
  • ”Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”
Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar.
Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan.
Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :
Sabdapalon ature sêndhu: ”Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, …..….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”
  • Sabdo Palon berkata sedih: ”Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, …..
    ….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”
Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam karya-karya leluhur sangat toleransif sifatnya.
Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa ”suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.
Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual (ponokawan) Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :
”…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”
  • ”…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”
Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti.
Jadi Semar merupakan pamomong yang ”tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah).
Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa ”perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada ”bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada ”majikan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.
Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip.
Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :
”….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.”
  • ”….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
”….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.”
  • ”….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”
Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi ”mbah”, ”aki”, ataupun ”eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :
”Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: ”Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.”
  • “Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”
Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.







Ramalan Sabdo Palon
Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :
3.
Sabda Palon matur sugal, ”Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jume­neng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan.
  • Sabda Palon menjawab kasar: ”Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
4.
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa.
  • Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.
5.
Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.
  • Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
6.
Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.
  • Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
7.
Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.
  • Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
8.
Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya.
  • Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya.
Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu.
Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: ”Semar Ngejawantah”.
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun 2006 lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : ”Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah ”Barat Daya”.
Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu).
Secara hakekat nama ”Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat.
Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 0 + 0 + 6 = 17 ( 1 + 7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari ”bumi sap pitu” dan ”langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan ”Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi.
Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).
Siapa Sejatinya ”Sabdo Palon Noyo Genggong” ?
Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog/buku ini, maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu.
Dari penuturan bapak Budi Marhaen, saya mendapatkan jawaban: ”Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.”
Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum ”Bhinneka Tunggal Ika”).
Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.
Dalam “Dwijendra Tattwa” dikisahkan sebagai berikut :”Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama ”Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut ”Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan mata batinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam ”Pagunung Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.
Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa.
Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supranatural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melan­ting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).
Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, lalu bapak Budi Marhaen memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan yang diperoleh dari kegaiban dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:
1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal.
  • Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.
2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya.
  • Ayahanda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak.
  • Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat.
  • Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya.
  • Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang.
  • Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.
7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang.
  • Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang.
  • Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.
9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah.
  • Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya.
  • Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditam­bah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun dibawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.

KESIMPULAN
Akhirnya bapak Budi Marhaen mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan :
”Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru.
Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah nampak dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab secara vulgar persoalan ini. Sangat sensitif. Karena ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskito, ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya.
Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Sabdo Palon yang telah menitis kepada ”seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo.
Secara fisik ”seseorang” itu ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha, yaitu : Pusaka Oumyang Majapahit (lambang Daya Atman) dan Pusaka Sabdo Palon (Ki Rancak – lambang Daya Rohul Kudus). Pusaka tersebut merupakan kata sandi (password) berkaitan dengan hakekat keberadaan Pura Rambut Siwi sebagai pembuktiannya.”
Dapatlah dikatakan bahwa : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu sosok yang dikenal dengan nama ”SATRIO PININGIT”. Banyak pendapat yang berkembang di masyarakat luas selama ini dalam memandang dan memahami isitilah ”Satrio Piningit”. Pemahamannya tentu bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas keilmuan masing-masing orang.
Satrio Piningit yang telah menjadi mitos selama perjalanan sejarah bangsa ini memunculkan misteri tersendiri. Ia merupakan perbendaharaan rahasia bumi dan langit yang teramat sulit ditembus oleh akal pikiran. Keberadaannya gaib namun nyata. Bahkan para winasis waskita pun belum tentu mampu menembus aura misterinya. Karena dalil yang berlaku seperti halnya dalam memandang Semar. Orang yang hatinya kotor dan masih diliputi dengan berbagai hawa nafsu akan sulit melihat Semar. Namun Semar dapat terlihat bagi orang yang hatinya bersih/suci dan melakoni tirakat (tapaning ngaurip/tasawuf hidup) sepanjang hidupnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua orang dapat menjumpainya. Semua akan terfilter secara alamiah. Atau dengan bahasa lain, jika seseorang telah mendapatkan hidayah Allah SWT maka dia dapat menjumpai Semar yang pada hakekatnya adalah pancaran Cahaya Ilahiah itu sendiri. Walaupun tidak menjumpainya namun daya-daya kehadirannya dapat dirasakan secara luas tanpa disadari. Fenomena ini dilambangkan dalam cerita pewayangan ketika ”Semar Ngejawantah” dan kemudian saatnya ketika ”Semar Mbabar Diri” maka pecahlah peperangan ”Bharatayudha Jaya Binangun”. Perangnya kebaikan melawan keburukan. Di saat inilah kita di jagad nusantara ini sedang memasuki dan menjalani fase tersebut.
Hakekat Satrio Piningit menurut pandangan bapak Budi Marhaen adalah sosok seorang ”Guru Sejati”. Sosok guru yang tidak menyebarkan ”ajaran ataupun agama baru” namun menebar kasih ke atas seluruh umat tanpa membedakan golongan, bangsa, suku, maupun agama atau kepercayaan.
Bukan sekedar sosok Satrio Piningit atau Guru Sejati yang harus kita cari, akan tetapi yang sangat hakiki adalah ”Kebenaran Sejati” yang harus dicari atau ditembus di dalam dirinya. Maka dalam perjalanan tasawuf hal ini dikenal dengan dalil Man arofa nafsahu faqad arofa robbahu (kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenal Allah).
Sehingga kembali dalam konteks ”Satrio Piningit” yang sejatinya adalah Sabdo Palon, terdapat suatu misteri kata sandi yang harus dipecahkan, yaitu : ”Di balik SP (Satrio Piningit) terdapat 10 SP.” Angka 10 menyiratkan bahwa untuk mencari yang 1 (satu = Esa), kita harus mengosongkan diri (0). Angka 0 dan 1 adalah bilangan digit (binary) yang melambangkan kalimah toyyibah : ”La ilaha ilallah” (tiada Tuhan (0) selain Allah (1).
Dalam konteks ini bapak Budi Marhaen mengungkapkan rahasia sandi tersebut (mbabar wadi) berdasarkan fenomena spiritual yang ditemuinya berkaitan dengan sandi-sandi rahasia di dalam karya warisan leluhur nusantara :
Jadi, Satrio Piningit (SP) adalah :
  1. seorang Satrio Pinandhito (SP)
  2. yang sejatinya adalah Sabdo Palon (SP)
  3. berlaku sebagai Sang Pamomong (SP)
  4. dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP)
  5. pemegang pusaka Sabdo Palon (SP)
  6. berada di Semarang Pinggiran (SP)
  7. tepatnya di daerah Semarang Podorejo (SP)
  8. dimana terdapat Sendang Pancuran (SP)
  9. dengan nama Sendang Pengasihan (SP)
  10. dan Sendang Panguripan (SP)
Jika memang mendapatkan ridho dan hidayah Allah, maka beruntung jika dapat menjumpainya. Setidaknya inilah jawaban dari apa yang telah diungkapkan oleh bapak Budi Marhaen berkaitan dengan misteri ”Semarang Tembayat” yang tertulis di dalam Serat Musarar Joyoboyo. Dibukanya misteri ini berkaitan dengan Sarasehan Spiritual : Jalan Setapak Menuju Nusantara Jaya, di Semarang pada tanggal 20 Desember 2007 yang telah mencanangkan topik : ”REVOLUSI AKBAR SPIRITUAL NUSANTARA”. Telah tiba saatnya Misteri Nusantara terkuak.
Dari apa yang telah saya ungkapkan sejauh ini mudah-mudahan membawa banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah carut-marut keadaan negeri ini akan datang cahaya terang di depan kita. Semoga Allah ridho. Amin.
( Nurahmad )






04 Putra Sang Fajar

Muncul Di Ufuk Timur

 

Pembaca yang budiman, apa yang terpapar berupa tulisan-tulisan di dalam blog internet maupun buku ini adalah murni merupakan hasil “input spiritual” atau bisa dikatakan sasmita/ ilham/isyarah/warid, yang kemudian di-cross check (cek silang) dengan beberapa wasiat karya leluhur berkenaan. Untuk diketahui pula sebelumnya bahwa setiap “input spiritual” yang diterima penulis selalu disertai dengan turunnya ayat Al Qur’an dari kegaiban (berupa “bisikan” atau “bimbingan” dalam membuka kitab Al Qur’an) sebagai hakekat penjelasannya.
Secara jujur, penulis bukanlah seorang ahli kitab ataupun Al Hafidz. Ayat-ayat Al Qur’an yang turun itulah yang senantiasa penulis jadikan pijakan utama dalam melakukan setiap “perjalanan spiritual” selama ini. Termasuk “input spiritual” untuk menyuarakan semua ini ke dalam blog internet maupun buku ini, yaitu QS Asy Syua’raa’ : 5 – 9 yang berbunyi :
”Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan Yang Maha Pemurah, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya. Sungguh mereka telah mendustakan (Al Qur’an), maka kelak akan datang kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu me­reka perolok-olokan. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia­lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
Dan juga QS An Nuur : 46 – 47 yang berbunyi :
”Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. Dan mereka berkata: ”Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”
Pada bulan Juli 2007 penulis pernah mengumumkan informasi di dalam blog internet tentang ”Cahaya Putih” yang terlihat di atas Alas Ketonggo pada tanggal 7 Juli 2007 yang lalu yang bergerak menuju ke arah timur dan berdiam di suatu tempat di timur. Fenomena spiritual itupun dibarengi dengan turunnya ayat Al Qur’an sebagai hakekat penjelasannya, yaitu QS Al Israa’ : 41 – 46, yang menyatakan :
”Dan sesungguhnya dalam Al Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Katakanlah: ”Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai Arasy.” Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.”
Dalam fenomena ini secara khusus arti dan maksud ”Cahaya Putih” itu dijelaskan melalui QS Al Hajj : 40 – 41 yang berbunyi :
” (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ”Tuhan kami hanyalah Allah.” Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuat­an yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
(Masya Allah la quwata ila billah..!!! Ayat ini menyiratkan gambar­an tentang ”seseorang” yang tersembunyi itu).
Mengapa pula pada waktu yang lalu yaitu tanggal 11 dan 12 Juli 2007 kami memberitahukan di dalam blog internet kepada para winasis dan waskita di negeri ini untuk bisa berkumpul di Bali pada hari Jum’at tanggal 13 Juli 2007 untuk bersama-sama membuktikan kebenarannya.
Dalam fenomena ini, secara hakekat Alas Ketonggo sebenarnya adalah Pulau Dewata (Bali). Dan ”Cahaya Putih” di timur itu ternyata berada di Sad Kahyangan Jagad sisi timur yaitu di Pura Lempuyang Luhur (lambangnya Sang Hyang Iswara, melambangkan keputusan dan kebijaksanaan). Berkaitan dengan fenomena ini turunlah ayat yang menjelaskannya berupa QS An Nuur : 51 – 52 yang berbunyi :
”Sesungguhnya perkataan orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya supaya diputuskan perkara di antara mereka* ialah ucapan: ”Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
(*: Maksudnya: Di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin dan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin)
Saat itu di Pura Lempuyang Luhur – Karangasem, input spiritual lain yang menyertainya adalah input untuk menyelenggarakan suatu upacara ritual di Pura Tanah Lot pada bulan Agustus 2007. Dikatakan moment itu akan menandai kemunculan ”seseorang” itu dan sebagai forum pesaksian/pembuktian atas kebenarannya sebelum ”seseorang” itu mengemban amanah-amanah-Nya bagi kemaslahatan rakyat negeri ini.
Akhirnya bersama dengan rekan-rekan spiritualis di Bali terlaksana Upacara Guru Piduka yang telah berlangsung di Tanah Lot pada tanggal 26 Agustus 2007 yang lalu.
Menurut kesaksian beberapa spiritualis dari Jakarta, Semarang dan Bali yang hadir dalam acara itu telah “melihat” fenomena spiritual yang sama tentang kemunculan “Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu” di tengah kita. Ya.. sinyal yang muncul menyiratkan bahwa “Sabdo Palon Noyo Genggong” telah muncul.
Sungguh sangat rumit untuk menjelaskannya bagi konsumsi akal penalaran. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT berkehendak. Saat ini “Roda Cokro Manggilingan” tengah bergerak dan berputar. Walau secara kasat mata tidak terlihat, namun daya-dayanya akan terasa secara luas.
Bukanlah suatu kebetulan jika pada tanggal 26 Agustus 2007 malam itu (dini hari masuk tanggal 27 Agustus 2007) bulan purnama terlihat ada dua (yang satu sebenarnya adalah planet Mars). Fenomena ini melambangkan kemunculan “dua sosok” yang menjadi satu kesatuan, ibarat Semar dan Arjuna atau Begawan Abiyoso dan Prabu Parikesit. Dalam Al Qur’an dilambangkan kekuatan Nabi Musa dan Nabi Harun dalam menghadapi Fir’aun. Dan dalam konteks ini adalah : “Sabdo Palon dan Noyo Genggong”. Secara kegaiban Sabdo Palon adalah Dang Hyang Nirartha (Sang Hyang Ismoyo) dan Noyo Genggong adalah Gajah Mada (Dewa Gana/Ganesha). Aura “dua sosok” tersebut ada pada dua orang Jawa berdarah Sunda pengikut Rasulullah Muhammad SAW melalui Ki Santang, yang menjalankan ajaran Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. Secara hakekat fenomena ini melambangkan bahwa “dua sosok” beliau adalah berasal dari Trah Pajajaran – Majapahit. Sehingga setidaknya terjawab sudah apa yang telah diwangsitkan oleh Prabu Siliwangi dalam “Uga Wangsit Siliwangi” berkenaan dengan sosok “Budak Angon dan Pemuda Berjanggut”. Dua sosok tersebut mewakili keturunan Prabu Siliwangi yang pergi menuju ke arah Timur.
Tak perlu penasaran siapa sejatinya beliau. Karena beliau “dua orang” tersebut tidak akan muncul di permukaan sebelum missi yang dijalankannya paripurna. Missi tersebut berkenaan dengan “Persatuan Umat” dan untuk ingat kembali akan “Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa”. Jangan dibayangkan “beliau” akan harus berhadapan dengan jutaan umat di nusantara ini. Namun dalil yang berlaku pada “beliau” adalah : “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”.
Sampai kapanpun “beliau” tidak akan mengaku dan tidak mengetahui bahwa dirinya sebagai sosok “Satria Piningit” itu. Jadi dalam kesempatan ini kami ingin mengatakan bahwa jika di permukaan ada pihak-pihak yang mengaku atau meng-klaim dirinya sebagai Satria Piningit ataupun Ratu Adil, semua itu adalah “Tipu Daya dan Kebohongan Belaka”. Apalagi ujung-ujungnya berkaitan dengan harta karun atau pusaka Bung Karno, semua itu adalah “Bohong Besar”.
Saat ini secara kegaiban “beliau” tengah berjalan dari Timur menuju Barat, meluruskan kembali apa yang salah diantara Majapahit dan Pajajaran, khususnya kejadian Perang Bubat. Karena secara spiritual terjadinya Perang Bubat bukanlah karena akal licik Gajah Mada untuk menaklukkan Pajajaran. Tetapi yang terjadi adalah kesalah- pahaman karena Gajah Mada bersiasat untuk menghindarkan “perkawinan sedarah” yang membawa petaka/kutukan antara Dyah Pitaloka dengan Prabu Hayam Wuruk. Hakekatnya asal mula Majapahit (R. Wijaya) adalah dari trah Pajajaran (dulunya Kerajaan Sunda Galuh). Sehingga secara hakekat pula bahwa Pajajaran adalah “saudara tua” Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Gajah Mada sebagai sosok yang misterius sejatinya adalah Rangga Gading (makam/petilasannya ada di Bogor).
Prinsipnya banyak hal yang perlu diluruskan berkenaan dengan sejarah nusantara ini. Karena kepentingan pihak-pihak tertentu pasca keruntuhan Majapahit, sampai dengan dekade ini banyak sejarah yang telah diputarbalikkan ataupun dibengkokkan. Secara empirik catatan atau bukti sejarah boleh hilang, namun di alam kegaiban catatan sejarah nusantara ini tidak dapat dihapus. Dan inilah peran kemunculan beliau “Sabdo Palon Noyo Genggong” yaitu meluruskan apa yang salah di negeri ini. Jika secara kegaiban hal-hal yang salah dapat diluruskan, maka aura ini akan berpengaruh besar dalam kehidupan manusia di bumi. Tak salah kiranya kembali apa yang tertulis di dalam Uga Wangsit Siliwangi :
“Dengarkan! Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi, Orang Sunda dipanggil-panggil, Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.”
Pada kesempatan ini dapatlah penulis ungkapkan pasemon (sanepan) berupa syair dari Sabdo Palon tentang Jangka Joyoboyo yang terjadi saat ini (diterima melalui kegaiban), sebagai berikut :
”Semut ireng ngendog jroning geni,
(”Semut hitam bertelur di dalam api,)

Ono Merak memitran lan Baya,
(Ada Merak berteman dengan Buaya,)

Keyong sak kenong matane, (Keong sebesar talempong matanya,)
Tikuse padha ngidhung, (Tikusnya pada bernyanyi,)
Kucing gering ingkang nunggoni, (Kucing kurus yang menunggui,)
Kodok nawu segara oleh Banteng sewu,
(Kodok menjaring di danau mendapatkan seribu Banteng,)

Precil-precil kang anjaga, (Anakan katak yang menjaga,)
Semut ngangrang angrangsang Gunung Merapi,
(Semut Rangrang merangsang Gunung Merapi,)

Wit Ranti (meranti) woh Delima.” (Pohon Meranti berbuah Delima.”)
Bebarengan dengan turunnya pasemon berupa syair ini, turun pula ayat-ayat yang menjelaskannya, yaitu QS Ali Imran : 140 – 141 :
”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.”
Dan juga QS Ar Ra’d : 42 :
Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah. Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri, dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu.”
Serta QS Al Bayyinah : 5 :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Hakekat spiritual yang tersirat adalah bahwa saat ini skenario Allah tengah berjalan. ”Pasukan Sirrullah” tengah bekerja memerangi kezaliman, kemunafikan dan keingkaran (kafir) di negeri ini. Sehingga secara kasat mata kita akan banyak menyaksikan berbagai macam bencana dan kejadian-kejadian di luar akal pikiran manusia sebagai hamba-Nya. Semuanya sudah sangat jelas. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya. Semoga kita yang sadar akan semua fenomena yang terjadi ini menjadi hamba yang selalu Eling dan Waspada. Eling kepada leluhur dan senantiasa Eling kepada Allah Azza wa Jalla.
( Tri Budi Marhaen Darmawan )


























05 Membaca Kejadian Alam


Bencana demi bencana yang terjadi di bumi pertiwi ini sesungguhnya merupakan tanda peringatan keras Allah kepada bangsa ini yang secara khusus tertuju kepada elite pimpinan nasional baik ulama maupun umaro’nya. Untuk tidak mencari kambing hitam dari segala peristiwa yang terjadi, maka kita semua memahami akan dalil di dalam manajemen perusahaan (leadership) bahwa : ”Tidak ada bawahan yang salah. Yang ada adalah pimpinan yang salah.” Begitu pula dalam konteks negara sebagai sebuah perusahaan : ”Tidak ada rakyat yang salah, melainkan pemimpinnyalah yang salah.”
Untuk memahami tulisan ini dibutuhkan perenungan yang mendalam. Diawali dengan pemahaman bahwa di dalam hakekat kehidupan ini ”tidak ada yang namanya ‘Kebetulan’.” ‘Kebetulan’ yang terjadi hakekatnya adalah ketetapan yang telah ditetapkan-Nya. Manusia dengan akalnya yang terbatas hanya bisa saling berkomentar dan beranalisis dengan berbagai macam teori ilmu pengetahuan tentang suatu kejadian setelah kejadian itu terjadi. Sebuah bukti bahwa akal (penalaran) dan ilmu pengetahuan adalah nisbi. Menghadapi bencana yang terjadi, manusia tidak akan mampu mencegahnya melainkan hanya mampu menangani akibat-akibatnya. Sangatlah tidak arif dan bijak apabila setiap bencana yang terjadi ditanggapi dengan statement : ”Itu bukan kutukan dari Allah dan bisa dijelaskan secara ilmiah, serta janganlah dihubung-hubungkan dengan takhayul.” Pernyataan ini menggambarkan arogansi penalaran (berpikir ala barat) yang semakin menjauhkan diri dari Sang Khalik, dan akan selalu menjadi bumerang bagi kehidupan bangsa ini.
Dengan merenung dan berpikir kita akan menjadi mawas diri. Terlalu mengandalkan akal bisa menjadikan kita sesat dan ingkar. Lahir dan batin harus menyatu. Mari kita renungkan bersama ayat-ayat berikut ini :
”Katakanlah : ”Kabarkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kamu serta menutup hati kamu? Siapakah Tuhan selain Allah yang mengembalikannya kepadamu?” Perhatikan bagaimana Kami memperlihatkan tanda-tanda kemudian mereka tetap berpaling.” (QS 6 : 46)
”Aku akan memalingkan daripada ayat-ayat-Ku orang-orang yang takabur di muka bumi tanpa alasan yang benar. Dan jika mereka melihat tiap-tiap ayat, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka lalai daripadanya.” (QS 7 : 146)
Apakah selama ini kita pernah berpikir dan merenung mencari jawab atas bencana yang terjadi ? Mengapa tsunami yang banyak memakan korban jiwa (setara dengan korban bom atom Hiroshima – Nagasaki) harus terjadi di bumi Aceh (serambi Mekah)? Mengapa sampai saat ini kita masih dipusingkan dengan Flu Burung yang mewabah dan belum diketemukan obatnya ? Mengapa di saat yang lain terjadi KKN (kasus kesurupan nasional) di berbagai kota yang terjadi secara spontan dan beruntun di tempat-tempat pendidikan dan pabrik rokok ? Mengapa Merapi harus memuntahkan laharnya dan sempat membingungkan kita semua ? Mengapa gempa yang meluluhlantakkan pemukiman dan banyak memakan korban jiwa terjadi di Yogyakarta ? Mengapa terjadi bencana lumpur panas mengandung gas di Sidoarjo yang sampai saat ini belum bisa teratasi ? Dan deretan pertanyaan mengapa-mengapa yang lain. Rasa-rasanya satu bencana belum tuntas teratasi, muncul bencana-bencana yang lain. Apakah dengan rangkaian kejadian-kejadian itu masih tetap mengeraskan hati kita untuk tetap berdiri di atas arogansi akal ilmiah kita ? Terlebih lagi di saat kondisi sosial ekonomi negara ini sudah semakin terpuruk dan memburuk.
Dilihat dari perspektif spiritual, hakekat segala apa yang terjadi merupakan refleksi atau pantulan cermin dari bangsa ini yang diwakili oleh pemimpin bangsanya. Secara singkat dapatlah diurai hakekat dari bencana-bencana besar yang terjadi di bumi Nusantara ini. Tsunami Aceh yang telah memakan korban jiwa terbesar di bumi dimana telah diimplementasikan syariat Islam ini merupakan awal peringatan yang sangat keras, yang menyiratkan telah terjadi ”Pelanggaran Aqidah” pada bangsa ini. Fenomena kerasukan jin/setan merupakan gambaran apa yang terjadi pada bangsa ini. Setan-setan korupsi, kekuasaan, keserakahan, kriminal, dan lainnya telah merasuk pada sebagian besar anak negeri. Korban yang rata-rata perempuan melambangkan bahwa Ibu Pertiwi sedang marah, menjerit, menangis dan meronta menyaksikan apa yang terjadi pada bangsa ini. Ibu-ibu rumah tangga se-antero nusantara pun merasakan hal yang sama menghadapi tekanan sosial dan ekonomi saat ini. Tempat pendidikan melambangkan sindiran kepada kaum terdidik yang selalu mendewakan akal. Pabrik rokok ibarat kerajaan yang mengolah hasil bumi tembakau menjadi rokok sebagai komoditi terlaris melambangkan kejayaan yang berdiri di atas penderitaan buruh atau rakyat kecil. Rahmat Allah tidak dibagikan secara adil bagi kesejahteraan rakyat. Nampaknya, kita memang kurang bersyukur atas limpahan rahmat yang telah diberikan-Nya.
Aura panas ”wedhus gembel” tengah menyelimuti bangsa ini yang ditunjukkan dengan episode-episode ketidakpuasan yang menyulut emosi rakyat dalam berbagai konflik kepentingan. Potret ini dilambangkan dengan muntahnya lahar panas gunung Merapi. Sementara Merapi masih terus mengancam, secara sontak Yogyakarta sebagai simbol pusat budaya Kerajaan Mataram digoyang gempa yang meluluhlantakkan ribuan pemukiman dan banyak memakan korban jiwa. Secara hakekat peristiwa gempa Yogyakarta yang menghancurkan Bangsal Traju Emas (ruang penyimpanan pusaka keraton) dan Taman Sari (pemandian dan tempat pertemuan Raja dengan Kanjeng Ratu Kidul) menyiratkan memudarnya aura kerajaan sebagai simbol pemerintahan negeri ini.
Ketika bangsa ini masih disibukkan dalam mengatasi korban gempa Yogyakarta, kesibukan dan kepanikan baru muncul sebagai dampak meluapnya lumpur panas bercampur gas di Sidoarjo Jatim yang hingga kini belum dapat teratasi. Lepas dari kesalahan apa dan siapa penyebab kebocoran dalam eksplorasi sumber gas tersebut, bencana lumpur panas mengandung gas ini melambangkan kekotoran moral elite pemimpin bangsa ini yang membawa aura panas dan bau menyengat. Situasi ini berakibat rakyat kecil selalu menjadi korban.
Hubungan antara manusia dengan alam senantiasa berubah, seiring perkembangan teknologi, informasi, dan industrialisasi. Suku-suku di pedalaman, bahkan sampai saat ini masih melak­sanakan ritual-ritual tertentu untuk bersahabat dengan alam. Mereka, mengambil kayu atau hasil bumi secukupnya. Alam tidak dieksploitasi sekehendak hatinya. Walaupun suku-suku primitif tersebut belum tersentuh ajaran agama formal, mereka telah memiliki kesadaran religius yang baik. Mereka mampu mengembangkan nalurinya bahwa merusak pohon atau membunuh binatang sembarangan akan mendatangkan bencana.
Kita sebagai bangsa kenyataannya telah kehilangan kearifan pada alam dan lingkungan. Dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu kita akui secara jujur bahwa atas nama ”penalaran dan logika”, secara sadar atau tidak kita telah mengikis budaya warisan leluhur dalam mengarifi alam dan lingkungan. Teknologi ujung-ujungnya digunakan untuk menaklukkan alam. Manusia tidak lagi bergantung pada alam, namun malahan menguasai alam dengan dilandasi keserakahan.
Secara jujur pula perlu diakui, bangsa ini khususnya elite pimpinan nasional telah terjebak di alam materialisme yang penuh tipu daya dan menyesatkan. Alih-alih menyejahterakan rakyat. Yang terjadi hutang luar negeri-pun makin membumbung tinggi. Dari total hutang Indonesia sekitar Rp 1.400 triliun, APBN 2006 yang besarnya Rp 650 triliun, 39% nya hanya untuk membayar hutang dan bunganya. Sungguh merana anak cucu negeri ini dengan segala bebannya.
Nampaknya sebagian besar bangsa ini telah kehilangan adab. Adab kepada Allah Azza wa Jalla, juga adab kepada sesama manusia serta alam dan seluruh isinya. Pada masa ini Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa yang adiluhung sekedar menjadi slogan semata. Para elite pemimpin negeri ini hanya sibuk berkutat pada ranah politik dan upaya perbaikan ekonomi. Namun sangat ironis, pada kenyataannya kebijakan pemerintah seringkali menyengsarakan rakyatnya. Ironis pula, menurut Transperancy International pada tahun 2005 peringkat korupsi Indonesia menempati rangking 137 (25 besar) dari 159 negara di dunia.
Betapa memprihatinkannya melihat potret situasi carut marut yang terjadi pada bangsa ini. Memang sudah sejak sekian lama bangsa ini sakit. Ibu Pertiwi tidak sekedar menangis dan bersedih, akan tetapi mulai menunjukkan angkaranya. Geram menyaksikan banyak penyimpangan akhlak yang dilakukan oleh anak negeri ini. Marah melihat polah tingkah anak bangsa yang makin jauh dari jiwa Pancasila sebagai Pandangan Hidup yang telah ditegakkan di bumi nusantara ini. Para elite pimpinan bangsa malah terkesan tidak memberikan teladan yang baik di mata rakyat. Sejak jaman orba hingga saat ini yang dipertunjukkan hanyalah bagaimana memenuhi kepentingan diri dan kelompoknya. Jiwa nasionalisme yang seharusnya tertanam dalam dada seluruh rakyatnya seakan luruh hilang tak berbekas.
Pada akhirnya kita semua tidak tersadar bahwa bumi NKRI dimana kita berpijak telah berubah arti menjadi ”Negara Kapling Republik Indonesia” (?). Betapa tidak, aset-aset strategis dan ber­harga bumi ini telah jatuh ke tangan asing. Kita lihat di bumi Papua ada Freeport di sana. Caltex di Dumai. Di Sulawesi ada Newmont, dan masih banyak lagi. Bahkan akhirnya, Blok Cepu-pun jatuh ke tangan Exxon. Memprihatinkan memang. Belum lagi terhitung aktivitas bisnis illegal yang mengeruk aset bumi ini untuk kepentingan asing, baik perikanan, pertambangan, maupun kehutanan.
Sebagian besar bangsa ini makin jauh dari Sang Khalik. Agama hanya dijadikan stempel. Ibadah dilakukan sekedar formalitas belaka. Penghayatan agama belum diimplementasikan dalam kehi­dupan sehari-hari. Seakan masing-masing terpisah berada pada sisi yang berbeda. Bahkan sebagian besar dari kita lupa, padahal sila ”Ketuhanan Yang Maha Esa” telah ditempatkan pada sila pertama, menjadi yang utama. Ini merupakan wujud kesadaran spiritual tertinggi the founding father’s bangsa ini dalam menempatkan Tuhan sebagai sentral Pandangan Hidup pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sudah saatnya bagi kita semua anak bangsa melakukan introspeksi dan bangkit menuju kesadaran bahwa kita sebagai makhluk ciptaan-Nya wajib memiliki rasa rumangsa lan pangrasa (menyadari) bahwa keberadaan di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi, yang mengemban tugas untuk selalu mengabdi hanya kepada-Nya. Dengan pengabdian yang hanya kepada-Nya itu, manusia wajib melaksanakan tugas amanah yang diemban, yaitu menjadi khalifah pembangun peradaban serta tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia, makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai, aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi di alam akhirat kelak (Memayu hayu harjaning Bawana, Memayu hayu harjaning Jagad Traya, Nggayuh kasampurnaning hurip hing Alam Langgeng). Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak terjangnya, demi mencapai ridho Ilahi. Sikap takwa mendasari pembangunan watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkan akhlak manusia akan menentukan kualitas hidup dan kehidupan.
Bung Karno pernah menulis, mengingatkan kita pada sebuah seloka dari Ramayana karya pujangga Valmiki, mengenai cinta dan bakti kepada Janani Janmabhumi – yaitu agar setiap orang mencintai Tanah Airnya seperti ia mencintai ibu kandungnya sendiri. Dan cinta Bung Karno terhadap kosmos itu diawali dari Bumi tempat kakinya berpijak, bumi pertiwi Indonesia yang disapanya dengan takjub dan hormat sebagai ”Ibu.” Pancaran cinta dan kasih sayang yang murni akan dapat membuka pintu rahmat-Nya. Mencintai sesama berarti mencintai Tuhan, bahkan mencintai alam berarti mencintai Sang Pencipta.
Insya Allah dengan limpahan kasih sayang anak negeri ini akan membuat Ibu Pertiwi tersenyum sumringah. ”Ya Allah, jauhkan kami anak negeri ini dari seburuk-buruk makhluk-Mu sebagaimana firman-Mu :
”Sesungguhnya telah Kami sediakan untuk penghuni neraka dari golongan jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang lalai” (Qs 7:179)
Dengan ijin dan ridho Allah SWT, menjadi tugas kita di masa depan mewujudkan Indonesia Raya sebagai ”Negara Kaya Rahmat Ilahi” (NKRI) demi kesejahteraan seluruh rakyatnya. Insya Allah, dengan pendekatan spiritual murni segala kejadian yang terjadi di bumi Nusantara ini dapat diketahui jawaban dan solusinya. ”Sakbeja-bejane kang lali, luwih beja kang eling lawan waspada”.
20 Agustus 2006
( Tri Budi Marhaen Darmawan )

















06 Fenomena Semburan Lumpur Sidoarjo

Telah setahun berlalu, namun bumi Porong dengan kegarangannya terus memuntahkan lumpur panas mengandung gas beracun dari dalam perutnya tanpa henti. Tak bergeming di tengah manusia berupaya dengan sekian banyak jurus yang dilakukan. Sekian banyak seminar dan diskusi telah diselenggarakan guna menelurkan teori-teori ilmiah mencari cara terapi penghentiannya. Berbagai teknologi pun telah diimplementasikan. Telah sekian banyak pula upaya ritual keagamaan dan spiritual dilaksanakan. Artinya, bertriliun-triliun rupiah telah dimuntahkan guna mengatasi semburan lumpur bumi Porong yang seakan menantang dan makin menunjukkan keangkuhannya. Entah berapa ratus triliun rupiah lagi akan dikeluarkan untuk menanggulangi semburan lumpur tersebut beserta dampak dan akibatnya. Padahal para pakar geologi pun telah memprediksikan bahwa fenomena alam semburan lumpur Porong ini baru akan berhenti setelah melalui masa selama 33 tahun.
Suatu fenomena yang luar biasa sekaligus memprihatinkan di tengah situasi negeri ini yang carut marut dan makin terpuruk. Dampak dari ini semua yang terpenting adalah berapa banyak lagi rakyat kecil yang akan menjadi korban? Sedangkan korban yang ada saat ini saja masih terkatung-katung nasibnya. Hanya janji-janji kosong yang membuai mereka setiap saat. Tangis dan rintihan kepedihan hidup mereka seakan ditelan waktu menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa. Nampaknya pemerintahan negeri ini telah gagal, tak mampu mengatasi persoalan ini dengan cepat dan sigap, terlihat mengulur-ulur waktu dan melindungi “kepentingan tertentu”.
Para elite negeri ini sepertinya telah terhijab dan terbelenggu oleh taghut-taghutnya sendiri. Mereka telah menanggalkan “Jas Merah” (ungkapan Bung Karno : Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Sejarah masa lalu hanya dijadikan dongeng sebelum tidur. Kita semua telah lupa. Kita semua “ada” saat ini adalah merupakan hasil perjalanan sejarah masa lalu. Lupa sejarah sama artinya kita melupakan asal-usul, lupa orang tua, lupa kakek nenek, lupa leluhur, dan sama artinya melupakan Allah SWT. Betapa tidak, padahal Al Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya yang menjadi pedoman hidup umat di bumi ini meriwayatkan pengalaman, ucapan, perbuatan dan akibat baik buruk orang-orang terdahulu.
Sejarah bukan sekedar perjalanan manusia di bumi yang terjadi begitu saja adanya, namun jika direnungkan lebih dalam memberikan pelajaran bagi kita akan ketetapan-ketetapan-Nya. Secara ringkas dapat dikatakan, dengan melihat sejarah, Allah memberikan pelajar­an kepada kita. Dalam kawruh Jawa salah satu hikmahnya dikenal dengan istilah : ”Ngunduh wohing pakerti” (orang akan memetik hasil atas perbuatannya sendiri). Bangsa ini adalah merupakan anak cucu para leluhur negeri ini. Sudah semestinya kita tidak melupa­kan sejarah keberadaan beliau para leluhur nusantara dengan segala fenomenanya. Sudah selayaknya kesadaran akan kesatuan persatuan berbangsa dan bernegara diikat oleh kenyataan sejarah nusantara ini. Menjadi suatu kenyataan bahwa bumi Nusantara (Indonesia) berbeda dengan bumi Arab, berbeda pula dengan bumi Amerika, Eropa, Afrika, Cina, dan lain-lain. Walaupun agama-agama telah menjadi keniscayaan berkembang di negeri ini, namun semestinya kita tidak meninggalkan ”jati diri” sebagai bangsa di tanah yang kaya raya ini, Nusantara. Sudah selayaknya kita orang Jawa mempertahankan identitas (tradisi dan budaya) ke Jawa-annya, orang Batak dengan identitas ke Batak-annya, orang Aceh dengan ke Aceh-annya, orang Dayak dengan ke Dayak-annya, dan sebagainya.
Apakah di jaman digital ini kita masih tidak percaya dengan petuah-petuah leluhur kita? Apalagi petuah atau karya leluhur yang winasis dan waskita yang menjadi wasiat bagi anak cucu negeri ini. Apakah kita masih angkuh dan sombong di dalam memandang upaya ”nguri-uri budaya leluhur” menanggapinya dengan pernyataan bahwa semua itu merupakan sesuatu yang syirik musyrik bahkan bid’ah dan sesat? Juga dinilai sebagai mistik dan tahayul? Padahal mistik dan tahayul merupakan suatu ungkapan terhadap hal-hal yang tidak dapat dicerna dengan akal penalaran karena bersifat gaib (tidak nyata atau tidak kasat mata). Padahal pula kegaiban adalah suatu kenyataan yang bagi kita umat beragama diwajibkan untuk meyakininya. Di dalam agama Islam kita mengenal adanya 6 (enam) Rukun Iman. Jin dan setan pun nyata adanya sebagai mahluk gaib ciptaan Allah Yang Maha Gaib. Apakah kita masih ingin mengingkarinya? Jadi, soal syirik musyrik, bid’ah dan sesat merupakan penilaian yang menjadi hak Allah semata. Kita sesama hamba ciptaan-Nya tidak berhak untuk saling memvonis dan menghakimi dalam persoalan ini.
Setidaknya kita patut tersadar bahwa ternyata wasiat-wasiat leluhur Nusantara ini merupakan suatu hal yang fenomenal dan luar biasa yang pernah ada dan pernah terjadi di muka bumi ini. Bayangkan dan renungkan sejenak, tanpa tersadar bangsa ini sebenarnya telah memiliki wasiat yang secara rinci namun tersamar menggambarkan sosok pemimpin dan situasi umum keadaan negara ke depan. Tentu saja semua terjadi atas Kehendak Allah dengan segala Kekuasaan-Nya. Dan semua itu merupakan harta karun yang tak ternilai harganya. Selain mengandung petuah tentang budi pekerti yang baik juga mengandung prediksi perjalanan bangsa ini dengan situasi dan kondisi yang menyertainya.
Apakah kita masih mengingkari, jika dikatakan oleh Prabu Joyoboyo (Jenggala, Th 1135 – 1157) di dalam Serat Musarar akan berdiri kerajaan Kediri, Singosari, Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram? Padahal masing-masing kerajaan berselang waktu ratusan tahun sesudahnya. Apakah kita masih mengingkari, jika dari perlambang yang ada dikatakan bahwa sejak Kemerdekaan Negara RI 1945 dikatakan bahwa negara dikutuk selama 60 tahun? Apakah kita juga masih mengingkari, bahwa pada saat ini kita masuk kepada era pemimpin dengan perlambang ”Tan kober pepaes sarira, tan tinolih sinjang kemben” yang bermakna bahwa pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah? Hal ini dengan versi lain dikatakan oleh Ronggowarsito, bahwa saat ini masuk pada era pemimpin ”Satrio Boyong Pambukaning Gapuro” dengan segala fenomenanya (lihat : Ramalan 7 Satrio Piningit). Sejujurnya bisa dikatakan bahwa di era kepemimpinan SBY – JK saat ini telah terjadi banyak bencana dan kecelakaan, sampai-sampai terlihat tidak sempat mengatur negara. Banyak kebijakan-kebijakan beliau yang mandul dalam pelaksanaannya walaupun banyak dibantu orang-orang pandai di bidang­nya. Berpotensi terjadinya disintegrasi bangsa, yang ditunjukkan dengan berbagai konflik kepentingan antar sesama anak bangsa, juga perdamaian “semu” GAM – RI yang merupakan potensi laten disintegrasi Aceh dari naungan NKRI di depan hari.
Setidaknya jika kita jeli, maka gambaran-gambaran yang telah diungkapkan para leluhur nusantara beratus-ratus tahun yang lalu telah muncul menjadi kenyataan saat ini. Dengan pemahaman ini maka kita dapat meraba apa yang akan terjadi setelah ini. Diperlukan kearifan lahir dan batin dalam memandang dan menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini dengan “penuh kesadaran”. Sadar sepenuhnya bahwa bumi dimana kita berpijak ini memiliki sifat dan karakter tersendiri. Nusantara adalah nusantara, dan bukan negeri yang lainnya. Segala apa yang tumbuh di jagad nusantara ini, baik sisi geografis, flora dan fauna, termasuk keragaman etnis beserta tradisi dan budayanya sudah menjadi ketetapan-Nya (sunatullah). Hanya nafsu-nafsu manusia saja dalam hal ini yang merusak segala tatanan yang ada.
Peristiwa semburan lumpur Sidoarjo merupakan salah satu bukti kenyataan yang terjadi akibat nafsu manusia yang rakus dan serakah. Sehingga dampaknya sungguh luar biasa. Selain alam lingkungan rusak parah, juga menimbulkan kesengsaraan materi, psikologis dan psikis dari ribuan jiwa yang tinggal di sekitarnya. Belum lagi “ancaman” bagi ribuan jiwa yang lain dan juga potensi laten bencana lain yang menyertainya (sebab-akibat).
Sangat ironis dan dilematis menghadapi persoalan ini. Manusia di jaman sekarang ini maunya hanya mengandalkan upaya-upaya penalaran secara logis bersifat lahir. Padahal persoalan yang dihadapi adalah peristiwa di luar nalar. Sedangkan upaya batin yang banyak dilakukan telah terkontaminasi mengandung “kepentingan-kepentingan” tertentu.
Dibutuhkan “kearifan bersama” dan toleransi yang sangat tinggi menyikapi fenomena semburan lumpur Sidoarjo ini. Secara potret spiritual pun sangat rumit upaya penyelesaiannya. Karena sebenar­nya kawasan semburan tersebut dahulu kala merupakan “tempat/kawasan suci”. Hal ini terkait dengan cerita legenda Raden Guru Gantangan dari Pajajaran yang dijodohkan dengan Payung Kencana putri dari Betara Naga Raja. Sejatinya secara kegaiban (alam niskala) tempat semburan lumpur tersebut adalah merupakan telaga para bidadari. Sehingga tempat itu dahulu kala ditandai dengan berdirinya Candi Pradah. Di tempat itu pula terdapat prasasti yang ditanam oleh Gajah Mada. Singkat cerita dibutuhkan kearifan untuk mengembalikan kawasan tersebut kembali menjadi “tempat suci”.
Namun secara hakekat spiritual, fenomena semburan lumpur ini merupakan satu paket dari serangkaian kejadian-kejadian yang lain. Dimana merupakan tanda yang memberikan pesan bahwa “kebaikan dan keburukan” di negeri ini akan sama-sama muncul di permukaan. Namun kemunculan ini akan membawa aura panas dan memakan korban. Segala keburukan akan terkuak yang akan dilibas dengan datangnya kebaikan. Daya kebangkitan semangat Majapahit tanpa terasa sudah mulai menampakkan diri. Secara kasat mata hal ini bisa dibuktikan dengan adanya upaya membenahi kawasan budaya bekas kerajaan Majapahit di Trowulan dengan proyek pembangunan “Majapahit Park”.
Bukan suatu kebetulan kalau dikatakan bahwa daya-daya Sabdo Palon Noyo Genggong tengah berjalan. Karena semuanya terjadi juga atas Kehendak Allah SWT. Fenomena yang tengah berjalan saat ini sebenarnya telah tertulis di dalam Wangsit Siliwangi sbb :
”Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. Yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menye­robot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.
Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi anak gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda me-maafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala. Silahkan pergi, ingat jangan menoleh ke belakang!”
Fenomena inilah yang dikatakan Prabu Siliwangi untuk menunjuk era saat ini. Betapa tidak, dengan kejadian semburan lumpur Porong yang hingga saat ini belum berhenti mengisyaratkan bahwa seluruh rakyat sedang menantikan datangnya mu’jizat. Disertai huru-hara di sana-sini, juga perebutan soal tanah. Pemuda gendut adalah perlambang orang-orang berduit yang serakah. Pepesan kosong bermakna bahwa rakyat tidak mendapat apa-apa terkalahkan karena orang-orang yang berkompeten atau berkuasa masuk dalam persoalan membantu orang-orang yang berduit. Kita lihat saja pada saat ini banyak sekali persoalan perebutan tanah dan gusur menggusur merebak di mana-mana.
Akhirnya dapat saya katakan di sini bahwa Semburan Lumpur Porong yang sangat fenomenal saat ini sesungguhnya merupakan suatu tanda yang mengisyaratkan adanya ”Sayembara” yang terbuka luas bagi anak cucu negeri ini. Walaupun pihak pemerintah atau Lapindo sekalipun tidak secara resmi mengadakan sayembara ini. Sayembara yang saya katakan itu mengisyaratkan bahwa : ”Bagi siapa saja yang mampu menghentikan semburan lumpur Porong saat ini, maka dialah Sang Budak Angon itu, dialah Aulia itu Sang Putra Betara Indra, dan dialah yang dikatakan Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu itu. Siapapun saja tanpa terkecuali, entah dia adalah seorang tukang becak, tukang parkir, penjual bakso, bahkan seorang jendral sekalipun. Semoga Tuhan Yang Maha Agung melimpahkan rahmat-Nya kepada umat-Nya yang berjuang menegakkan kebenaran. Semoga Allah meridhoi upaya kita semua. Amin…
Jayalah Negeriku,
Tegaklah Garudaku,
Jayalah Nusantaraku…
29 Mei 2007
( Tri Budi Marhaen Darmawan )











Lampiran


Surat Terbuka kepada SBY

Kepada Yang Mulia :
Presiden Republik Indonesia
(Susilo Bambang Yudhoyono)
Di
J A K A R T A

Ass.Wr.Wb.
Dengan Hormat,
Saya sebagai salah seorang rakyat kecil Indonesia yang teramat sangat prihatin dengan kondisi NKRI saat ini, ingin menyampaikan saran dan masukan kepada Yang Mulia Presiden SBY. Perkenankan saya menyampaikan ini dari persepsi Spiritual mengenai segala hal yang terjadi pada bangsa ini.

Bencana-bencana yang terjadi sejak dari Tsunami Aceh yang kemudian diikuti dengan bencana-bencana lain (gempa bumi, banjir bandang, flu burung, gagal panen, gunung meletus, sampai dengan lumpur panas Sidoarjo) adalah merupakan ketetapan Allah SWT yang harus terjadi dan merupakan peringatan keras kepada bangsa ini, khususnya dialamatkan kepada pemimpin negeri. “Tidak ada rakyat yang salah, yang ada adalah pemimpinnya yang salah”. Hal ini dikarenakan selama ini telah terjadi “Pelanggaran Aqidah” baik ulama maupun umaro’nya. Singkat kata banyak yang telah meninggalkan “Syahadat”. Batin diabaikan, Lahir diutamakan. Akal penalaran menjadi dewa, sementara yang Batin disingkirkan karena dianggap “takhayul”. Padahal segala kejadian bersumber dari Allah Yang Maha Gaib, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia sebagai ciptaan-Nya. Hanya dengan “mata batin” orang-orang yang telah tersucikan saja segala sesuatu dapat dimaknai.

Bangsa ini telah meninggalkan sejarah. Apa yang dikatakan Bung Karno : “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah)” telah terabaikan. Padahal yang terjadi saat ini merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Dan apa yang terjadi saat ini telah diprediksikan oleh para leluhur kita Prabu Jayabaya dan R.Ng. Ronggowarsito, yang mana hasil karya mereka merupakan ayat-ayat Allah. Perlu kiranya saya sampaikan cuplikan terjemahan bebas dari karya mereka :

A. Prabu Jayabaya (Kitab Musarar) :

    Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah.
    Keterangan :
    Lung Gadung Rara Nglikasi : Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita (Soekarno).
    Gajah Meta Semune Tengu Lelaki : Raja yang disegani/ditakuti, namun nista (Soeharto).
    
    Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkhasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
    
    Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram.
    Keterangan :
    - Bupati berdiri sendiri-sendiri : Otonomi Daerah.
    - Jaman Kutila : Reformasi
    - Raja Kara Murka : Raja-raja yang saling balas dendam.
    - Panji Loro semune Pajang Mataram : Dua kekuatan dalam satu kubu yang saling ingin menjatuhkan (Gus Dur – Megawati).
    
    Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar.
    Keterangan :
    - Nakhoda : Orang asing.
    - Sarjana : Orang arif dan bijak.
    - Rara Ngangsu, Randa Loro Nututi Pijer Atetukar : Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya (Megawati).
    
    Tan kober apepaes, sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
    Keterangan :
    Tan Kober Apepaes Tan Tinolih Sinjang Kemben : Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan (SBY/Kalla).
    
    Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi, orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
    
    Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
    
    Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
     
    Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
    
    Kemudian kelak akan datang Tunjung Putih semune Pudak kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Raja Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
    Keterangan :
    - Tunjung Putih semune Pudak Kesungsang : Raja berhati putih namun masih tersembunyi (Satriya Piningit).
    - Lahir di bumi Mekah : Orang Islam yang sangat bertauhid.
    
    Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
    Keterangan :
    - Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa : Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa.
    
    Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

B. R.Ng. Ronggowarsito :

Dipaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.
Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

    SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.
    
    SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
    
    SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.
    
    SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.
    
    SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.
    
    SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.
    
    SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.

Dari kajian karya-karya leluhur kita di atas menyiratkan bahwa segala sesuatunya memang harus dan akan terjadi dan tidak dapat ditolak. Sementara berkaitan dengan bencana terakhir yang terjadi, yaitu meletusnya Gunung Merapi yang kemudian disusul dengan Gempa Yogya dan Pangandaran, serta Semburan Lumpur Panas Sidoarjo yang tak kunjung berhenti merupakan realita ucapan “Sabda Palon” kepada Prabu Brawijaya dan Sunan Kalijaga. Berikut ini saya paparkan Ramalan Sabdo Palon :

    Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara
    Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
    Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon
    sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”
    Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
    Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha (maksudnya Kawruh Budi) lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.
    Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
    Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
    Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
    Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
    Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
    Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.
    Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.
    Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
    Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
    Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
    Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.
    Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.Keterangan :
    Tanggal 13 Mei 2006 lalu bertepatan dengan hari Waisyak (Budha) dan hari Kuningan (Hindu), Gunung Merapi telah mengeluarkan laharnya ke arah Barat Daya (serta merta pada waktu itu ditetapkan status Merapi dari “Siaga” menjadi “Awas”). Dari uraian Ramalan Sabdo Palon di atas, maka dengan keluarnya lahar Merapi ke arah Barat Daya menandakan bahwa Sabdo Palon sudah datang kembali. 500 tahun setelah berakhirnya Majapahit (Th 1500 an) adalah sekarang ini di tahun 2000 an.

Sampai dengan redanya, letusan Merapi hanya memakan korban 2 orang meninggal. Sebelum letusan itu Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan bahwa Merapi akan meletus dalam waktu 10 hari, ternyata tidak terbukti. Karena ucapan yang mendahului kehendak Allah (ndisiki kerso) yang tidak sepatutnya dilontarkan secara vulgar oleh seorang “raja”, maka Jogja pun digoyang gempa (disusul Pangandaran) yang banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Bahkan kita semua tidak tersadar bahwa Merapi sebenarnya tetap meletus, namun berpindah tempat di Sidoarjo dengan semburan lumpur panasnya yang beracun. Semburan lumpur panas ini merupakan peristiwa yang sangat luar biasa yang dampaknya akan banyak menyedot dana dan memakan korban jiwa. Secara penglihatan spiritual, teknologi apapun dan kesaktian paranormal/ulama se-nusantarapun tidak akan mampu menghentikan semburan lumpur ini. Bahkan peristiwa ini akan berpotensi memicu terjadinya chaos (goro-goro) yang pada gilirannya akan dapat menjatuhkan pemerintah. Sementara bencana-bencana ini akan terus berlanjut. Hanya seorang Waliyullah (kekasih Allah) saja yang dapat meredakan semuanya. Namun sayang, orang seperti ini selalu saja sangat tersembunyi.

Semua peristiwa alam yang terjadi adalah merupakan peristiwa gaib, karena semua terjadi karena kehendak Yang Maha Gaib, Allah Azza wa Jalla. Sehingga tidak dapat dilawan dengan kesombongan akal pikiran. Solusi atau jawaban tentang apa yang terjadi pada bangsa ini sebenarnya telah ada di dalam misteri bait-bait Ramalan Joyoboyo, R.Ng. Ronggowarsito maupun Sabdo Palon. Kebenaran selalu saja tersembunyi. Kata sandi dari jawaban misteri ini adalah : JOGLOSEMAR. Joglo telah runtuh, yang ada tinggal Semar. Inilah hakekat kondisi negara saat ini. Sebagai panduan perlu saya garis bawahi kata kunci yang ada di dalam bait-bait karya leluhur kita, yaitu :

    Di dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI (Satriyo Boyong Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergi dengan seorang spiritualis sejati satria piningit (tersembunyi) agar kepemimpinannya selamat.
    Dalam bait 22 ramalan Joyoboyo dikatakan “Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti dan memahami lambang tersebut.”
    Dari ucapan Sabdo Palon dalam ramalan Sabdo Palon tersirat bahwa dengan fenomena alam yang digambarkan (seperti yang terjadi saat ini) menandakan bahwa Sabdo Palon beserta momongan (asuhan) nya telah datang untuk mem-Budi Pekertikan bangsa ini (secara rinci terdapat di dalam Serat Darmogandul). Sabdo Palon secara hakekat adalah Semar.
JOGLOSEMAR = Jogja – Solo – Semarang. Dari peristiwa gempa Jogja telah membuktikan bahwa kerajaan Mataram Jogja & Solo sudah tidak memiliki aura lagi. Hal ini terbukti dengan hancurnya Bangsal Traju Mas (tempat penyimpanan pusaka kerajaan) dan Tamansari (tempat pertemuan raja dengan Kanjeng Ratu Kidul). Hal lain adalah robohnya gapura makam HB IX (Jogja) dan PB XII (Solo) di kompleks makam raja-raja Imogiri, sebagai perlambang bahwa Keraton Jogja – Solo sudah tidak memiliki aura dan kharisma. Sehingga yang tersisa tinggallah “Semarang” (Mataram Kendal).
Sebagai masukan kepada Yang Mulia Presiden SBY guna mengatasi carut marut yang terjadi pada bangsa ini, saya menyarankan :
”Kumpulkanlah ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid/syeh-syeh yang telah mencapai maqom “Mukasyafah”, Pedanda-pedanda sakti agama Hindu, Bhiksu-bhiksu agama Budha yang telah sempurna, serta kasepuhan waskito dari Keraton Jogja, Solo & Cirebon, untuk bersama-sama memohon petunjuk kepada Allah SWT mencari siapa sosok orang yang mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri ramalan para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu mereka. Insya Allah, jika Allah Azza wa Jalla memberikan ijin dan ridho-Nya akan diketemukan jawabannya.”

Sebagai catatan akhir dapat saya garis bawahi hal-hal sebagai berikut :

    Guna mengatasi kondisi bangsa seperti sekarang ini (khususnya fenomena “Semburan Lumpur Sidoarjo” ), saya menyarankan : “Jangan terlalu mengandalkan akal / penalaran (lahiriah), tetapi utamakanlah hal yang bersifat Batin. Berpeganglah kembali kepada sebenar-benar SYAHADAT, yaitu yang pertama bersaksi tiada sesembahan lain selain Allah (Yang Maha Gaib), dan kemudian bersaksi bahwa Muhammad (manusia) adalah utusan Allah.” Maknanya: ALLAH (Yang Maha Gaib) mutlak diutamakan. Batin adalah lambang yang gaib. Sedangkan Muhammad (manusia yang bersifat lahir) adalah utusan Allah. Dengan arti kata lain, yang “Lahir” adalah utusannya yang “Batin”. Kondisi saat ini faktanya telah meninggalkan “Syahadat”. Apa yang diucapkan sangat tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Lahir diutamakan, sedangkan Batin di-nomor dua-kan dan bahkan ditinggalkan.
    
    Semburan lumpur panas di Sidoarjo secara hakekat merupakan tanda / lambang bakal munculnya “Kebangkitan Majapahit II”. Ini merupakan fenomena awal dari ucapan Bung Karno bahwa suatu saat Indonesia akan menjadi “Mercusuar Dunia”.
    
    Jawaban dan solusi guna mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat” yang telah diungkapkan oleh Prabu Joyoboyo. Guna membantu memecahkan misteri ini dapatlah saya pandu sebagai berikut :
    Sunan Tembayat adalah Bupati pertama Semarang. Sedangkan tempat yang dimaksud adalah lokasi dimana Kanjeng Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Sunan Tembayat untuk pergi ke Gunung Jabalkat (Klaten). Secara potret spiritual, lokasi itu dinamakan daerah “Ringin Telu” (Beringin Tiga), berada di daerah pinggiran Semarang.
    Semarang Tembayat juga bermakna Semarang di balik Semarang. Maksudnya adalah di balik lahir (nyata), ada batin (gaib). Kerajaan gaib penguasa Semarang adalah “Barat Katiga”. Insya Allah lokasinya adalah di daerah “Ringin Telu” itu.
    Semarang Tembayat dapat diartikan : SEMARANG TEMpatnya BArat DaYA Tepi. Dapat diartikan lokasinya adalah di Semarang pinggiran arah Barat Daya. Ini merupakan deteksi gambaran secara spiritual.
Silahkan untuk dikonfirmasikan kepada ahli-ahli spiritual yang telah mencapai maqom (tingkatan) nya untuk dapat menembus dimensi tabir spiritual yang tertutup kabut ini. Insya Allah…

Demikian saran dan masukan saya, atas perhatiannya saya haturkan terima kasih.

Wass.Wr.Wb.
Semarang, 14 September 2006
Hormat Saya,

Tri Budi Marhaen Darmawan
0 8 1 3 2 5 3 8 8 8 0 8
budidarmawan@telkom.net